Terungkap Perselisihan Proyek E1 Tepi Barat: Akar Retaknya Hubungan Diplomatik Inggris-Israel

Bendera Inggris dan Israel terlihat di jalan Kikar Plumer di Tel Aviv. (Foto: iStock, AllyE)
Bendera Inggris dan Israel terlihat di jalan Kikar Plumer di Tel Aviv. (Foto: iStock, AllyE)
0 Komentar

SURAT kabar The New York Times mengungkapkan pada Sabtu (19/9/2026) bahwa perselisihan terkait proyek permukiman Israel yang dikenal dengan nama “E1” menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk hubungan antara Inggris dan Israel.

Perselisihan tersebut akhirnya mendorong London menjatuhkan sanksi luas terhadap permukiman-permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki sekitar sepuluh hari lalu.

Proyek “E1” merupakan salah satu rencana permukiman Israel yang paling menonjol di Tepi Barat.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah

Proyek tersebut bertujuan menghubungkan permukiman Ma’ale Adumim dengan Yerusalem Timur yang diduduki melalui pembangunan kawasan-kawasan permukiman dan pengambilalihan lahan milik warga Palestina.

Para pengkritik proyek ini menilai bahwa pembangunan tersebut mengancam kesinambungan geografis antara wilayah utara dan selatan Tepi Barat serta menghambat kemungkinan terbentuknya negara Palestina yang memiliki wilayah yang tersambung secara geografis.

Menurut The New York Times, perselisihan tersebut bermula sekitar empat pekan sebelum Inggris mengumumkan sanksinya.

Tepatnya, ketika Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband melakukan percakapan telepon yang berlangsung tegang dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar. Keduanya membahas rencana pembangunan permukiman di kawasan E1.

Surat kabar Amerika tersebut melaporkan bahwa Miliband mengakhiri percakapan dengan keyakinan bahwa Sa’ar telah menyampaikan secara jelas bahwa Israel tidak akan membuka tender pembangunan di kawasan yang dipersoalkan sebelum pemilu Israel yang dijadwalkan pada Oktober mendatang.

Namun, Kementerian Luar Negeri Israel menolak penafsiran tersebut mengenai isi percakapan telepon.

Sepekan setelah percakapan tersebut, pemerintah Israel membuka tender untuk pembangunan 1.234 unit permukiman di kawasan E1.

Baca Juga:Prabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat PenekanApa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?

Langkah ini memungkinkan perusahaan-perusahaan konstruksi mengajukan penawaran untuk melaksanakan proyek permukiman baru tersebut.

Akibatnya, para pejabat Inggris menilai langkah Israel itu sebagai kemunduran dari apa yang mereka pahami dari pernyataan Sa’ar dalam percakapan telepon tersebut.

Inggris dan sejumlah negara lainnya memandang bahwa wilayah yang hendak digunakan Israel untuk proyek tersebut merupakan bagian penting dari wilayah yang dapat menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.

Ed Miliband (kanan), Menteri Luar Negeri Inggris, dan Gideon Sa’ar, Menteri Luar Negeri Israel.

0 Komentar