PIMPINAN Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa dirinya siap dikritik hingga didemo apabila pola hidupnya lebih mewah dibandingkan para santri.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Gedung Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Di hadapan para tamu undangan, Kiai Hasan menjelaskan prinsip kesederhanaan dan kesetaraan yang dipegang teguh di lingkungan PMDG. Menurutnya, fasilitas seperti makanan, pakaian, kendaraan, hingga tempat tinggal pimpinan tidak boleh mencolok atau melebihi apa yang didapatkan para santri.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
“Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden. Boleh disaksikan, kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh. Boleh dikritik, boleh didemo. Inilah Gontor,” tegas Hasan.
Ia menyampaikan bahwa nilai kesederhanaan ini merupakan bentuk keikhlasan yang diwariskan oleh para pendiri Gontor—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi—sejak mewakafkan pondok tersebut kepada umat Islam pada tahun 1958.
Acara peringatan satu abad PMDG ini turut dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Menanggapi pidato pimpinan pesantren, Presiden mengagumi gaya penyampaian Kiai Hasan yang dinilainya lugas, efisien, dan mencerminkan kepemimpinan modern.
“Tadi Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal telah memberi sambutan, dan sambutannya sangat modern serta sangat efisien,” ujar Prabowo dalam sambutannya.
Acara puncak 100 tahun PMDG tersebut turut dihadiri jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga tinggi negara, perwakilan pimpinan Al-Azhar Mesir, serta duta besar dari negara-negara sahabat.
