KETEGANGAN di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah di Arab Saudi pada Sabtu (19/9/2026).
Selain menyasar ibu kota Riyadh, kelompok tersebut mengklaim telah menggempur fasilitas minyak Aramco di Yanbu, kota pelabuhan yang menjadi hub ekspor energi penting di pesisir Laut Merah.
Merespons memanasnya situasi ini, Pemerintah Turki menyatakan kesiapannya untuk mengulurkan bantuan militer kepada Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyebutkan bahwa Riyadh mungkin memerlukan dukungan teknis guna menghadapi ancaman udara Houthi.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
Bantuan tersebut siap disalurkan melalui pakta pertahanan trilateral yang baru ditandatangani bulan lalu oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, di mana serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Eskalasi serangan Houthi ini merupakan tanggapan atas serangan militer di ibu kota Yaman, Sanaa. Selain menyasar infrastruktur energi, gelombang serangan tersebut mengancam jalur pelayaran dan pasokan minyak global di tengah pemblokadean Selat Hormuz.
Sementara itu, koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat rudal yang menuju Riyadh serta menggagalkan berbagai serangan drone di wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.
“Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa pertahanan udaranya telah menghancurkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok Yaman tersebut ke arah Riyadh pada Sabtu pagi,” tulis Reuters, dikutip Minggu (20/9/2026).
Kelompok Houthi terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi sejak mengumumkan blokade laut terhadap Riyadh pada bulan Juli, termasuk menargetkan kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah.
Aksi ini menciptakan ancaman baru bagi pasokan minyak global dan membahayakan rute alternatif utama di Laut Merah untuk ekspor Teluk, di mana lalu lintas melalui Selat Hormuz juga masih diblokade.
Sebelum situasi dinyatakan aman, Pemerintah Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan bahaya udara bagi warga di Riyadh dan Al-Kharj.
Baca Juga:Prabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat PenekanApa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?
Serangan ini terjadi di tengah dinamika konflik regional yang kian kompleks menyusul perang antara AS-Israel dan Iran. Meskipun Arab Saudi meminta intervensi militer langsung, Presiden AS Donald Trump menolak keterlibatan langsung pasukannya melawan Houthi.
