Staf Pentagon Ungkap Kekacauan di Bawah Pete Hegseth: Krisis Amunisi, Paranoia, hingga Daftar Julukan Brutal

Menteri Pertahanan Pete Hegseth (Foto: Dursun Aydemir/Anadolu melalui Getty Images)
Menteri Pertahanan Pete Hegseth (Foto: Dursun Aydemir/Anadolu melalui Getty Images)
0 Komentar

SEJUMLAH staf Pentagon dilaporkan mempertaruhkan karier mereka untuk mengungkap kekacauan dan ketidakpuasan yang melanda Departemen Pertahanan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth.

Menggunakan telepon prabayar (burner phones) hingga perangkat pinjaman agar tidak terlacak, para informan ini mengirimkan pesan yang mereka sebut sebagai SOS darurat.

Enam orang dalam Pentagon–masing-masing memiliki pengalaman setidaknya enam tahun di markas besar militer tersebut–berbicara kepada Daily Mail mengenai kondisi kerja di bawah Hegseth.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah

Mereka menggambarkan mantan pembawa acara Fox & Friends tersebut sebagai menteri pertahanan yang paling tidak memenuhi syarat dan eksplosif dalam sejarah AS dan kini menjalankan lembaga tersebut seperti milik pribadi.

Krisis Perang dan Penipisan Stok Amunisi

Di tengah perang Iran yang memasuki bulan ketujuh, Hegseth menghadapi tekanan pemakzulan (impeachment) yang diusulkan oleh anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie. Hegseth dituduh melanggar konstitusi dalam penanganan perang tersebut.

Meskipun Hegseth secara publik mengeklaim kesuksesan total, sumber internal mengungkapkan kenyataan pahit di lapangan:

  • Stok senjata yang menipis drastis.
  • Situs militer AS di Timur Tengah yang hancur akibat serangan rudal dan drone Iran.
  • Blokade Iran di Selat Hormuz dan kerusakan pipa minyak Saudi.
  • Pengerahan 50.000 tentara dan lebih dari 17 kapal perang hingga pertengahan 2027 meskipun ada keberatan formal (non-concurs) dari para pimpinan komando militer.

Kondisi aset militer juga dilaporkan memprihatinkan. Kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi simbol krisis setelah berada di laut selama 8,5 bulan dengan masalah kekurangan makanan, kegagalan pipa, udara kotor, hingga beberapa upaya bunuh diri kru sebelum akhirnya bersandar di Thailand pada 2 September.

Paranoia dan Pembersihan Internal

Laporan menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump sempat marah besar kepada Hegseth pada Agustus karena merasa tidak diberi tahu mengenai penipisan stok amunisi. Alih-alih memperbaiki masalah, Hegseth dikabarkan lebih terobsesi memburu pembocor informasi (leaker), bahkan memaksa staf Joint Chiefs menjalani tes poligraf.

Di sisi lain, Hegseth dituduh melakukan pembersihan terhadap perwira senior, terutama perempuan dan minoritas yang ia anggap sebagai rekrutan DEI (Diversity, Equity, and Inclusion). Sekretaris Angkatan Darat Dan Driscoll dilaporkan mengundurkan diri setelah berselisih dengan Hegseth terkait kebijakan ini.

0 Komentar