Penembakan Massal di Sekolah Filipina: Pelajar 16 Tahun Tembak 10 Rekan Sekelas Lalu Bunuh Diri

Pistol Glock 9mm yang digunakan dalam penembakan di kampus SMA Banga di South Cotabato dan sepatu milik terdug
Pistol Glock 9mm yang digunakan dalam penembakan di kampus SMA Banga di South Cotabato dan sepatu milik terduga pelaku penembakan yang berada tepat di depan ruang kelas tempat penembakan terjadi pada hari Jumat (18 September 2026). Pelaku menembak dirinya sendiri di kepala dan meninggal di tempat kejadian, kata polisi. (Foto: DXOM-AM)
0 Komentar

DUNIA pendidikan di Filipina kembali berduka. Aksi penembakan massal terjadi di sebuah sekolah di kota Banga, Cotabato Selatan, Filipina selatan, pada Jumat (18/9/2026).

Insiden berdarah ini merenggut setidaknya tiga nyawa, termasuk terduga pelaku yang masih berusia 16 tahun, dan melukai delapan siswa lainnya.

Berdasarkan keterangan Gubernur Provinsi Cotabato Selatan, Reynaldo Tamayo, serta Wali Kota Albert Palencia, pelaku disinyalir mengakhiri hidupnya sendiri usai menembaki rekan-rekannya.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah

Semua korban yang tertembak merupakan pelajar berusia 14 hingga 17 tahun. Empat di antara delapan korban luka saat ini masih berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Sebelum melancarkan aksinya, remaja yang dikenal humoris itu sempat melontarkan gertakan kepada teman-temannya.

“Tersangka tadinya duduk di sebelah teman-temannya dan menyuruh mereka pulang ‘karena setelah makan siang, saya akan menjalankan rencana saya’. Teman-temannya tertawa karena penembak dikenal suka bercanda,” kata Palencia dikutip dari Al-Jazeera, Minggu (20/9/2026).

Namun, ancaman itu bukan candaan belaka. Setelah makan siang, pelaku mulai menembaki 10 siswa sebelum ikut terbunuh. “Setelah makan siang, dia mulai menembaki para siswa. Dia menembak 10 siswa sebelum membunuh dirinya sendiri,” tambah Palencia.

Meski kepolisian setempat menyatakan situasi telah terkendali, jumlah pasti pelaku yang terlibat masih diselidiki. Dugaan muncul setelah sebuah rekaman video memperlihatkan seorang guru menyebut ada dua orang yang melakukan serangan.

Maraknya Pelaku Anak di Bawah Umur

Tragedi di Cotabato Selatan ini memperpanjang deretan kelam penembakan sekolah di Filipina yang pelakunya sama-sama masih berstatus pelajar atau remaja. Peristiwa ini menjadi kasus ketiga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Agustus lalu, publik Filipina diguncang aksi seorang siswa di Zamboanga yang menyiarkan secara langsung detik-detik saat ia membunuh rekannya di dalam kelas sebelum akhirnya bunuh diri.

Baca Juga:Prabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat PenekanApa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?

Sementara pada Juni, insiden serupa menghantam sebuah SMA negeri di Tacloban, Filipina tengah, ketika dua orang siswa melepaskan tembakan yang menewaskan tiga pelajar dan melukai 20 orang lainnya.

Sorotan Ketat Senjata Api

Berulangnya insiden ini memicu desakan evaluasi atas kepemilikan senjata api di Filipina. Meski pemerintah telah memperketat aturan melalui pemeriksaan latar belakang (background checks) dan tes psikologis bagi pembeli, peredaran senjata api ilegal di tengah masyarakat masih menjadi ancaman.

0 Komentar