MASJID Agung Syarif Abdurrahman di kompleks Makam Sunan Gunung Jati menjadi pusat penyelenggaraan Haul Agung Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang dihelat pada Sabtu (19/9/2026). Peringatan akbar ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali keteladanan ulama sekaligus merawat warisan religi, sejarah, dan kebudayaan Cirebon.
Sultan Sepuh Aloeda II Rahardjo Djali mengungkapkan bahwa pelaksanaan haul tahun ini merupakan penggabungan pertama yang melibatkan partisipasi berbagai daerah lain. Ia berharap gaung acara ini tidak hanya berhenti di tingkat lokal Cirebon, melainkan dapat diperluas hingga skala Provinsi Jawa Barat.
“Haul di tahun ini merupakan gabungan pertama, artinya banyak daerah lain yang bergabung. Kita berharap ini bukan hanya dilaksanakan di level Cirebon saja,” ujar Sultan Aloeda II.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
Ia menambahkan, Sunan Gunung Jati memiliki keistimewaan tersendiri sebagai satu-satunya wali yang tidak hanya berperan sebagai ulama, tetapi juga sebagai umaro (pemimpin pemerintahan) yang menurunkan kesultanan. Oleh karena itu, momentum haul ini diharapkan mampu mendongkrak tingkat religiusitas masyarakat Kota Wali sekaligus menjaga kelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Sultan Aloeda II juga menyambut baik langkah penetapan tanggal pelaksanaan haul yang kini dibakukan setiap 19 September, dengan harapan dapat menjadi agenda wisata religi yang secara konsisten menarik kunjungan peziarah dari berbagai daerah.
Transformasi Haul dan Perencanaan Jangka Panjang
Sementara itu, Ketua Panitia Haul Agung Syekh Syarif Hidayatullah, K.H. Abd Hayi Imam, menegaskan bahwa peringatan haul tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial belaka. Kegiatan ini harus berfungsi sebagai ruang refleksi untuk menyerap hikmah dan meneladani rekam jejak perjuangan Sunan Gunung Jati dalam membangun tatanan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Panitia telah merumuskan peta jalan pengembangan penyelenggaraan haul ke dalam tiga tahapan strategis:
- Jangka Pendek: Difokuskan untuk memperkuat rasa kebersamaan, kohesi sosial, dan persatuan di tengah masyarakat.
- Jangka Menengah (Mulai 2027): Memadukan dimensi spiritual, sosial, ekonomi, dan budaya, yang nantinya akan diisi dengan gelaran festival serta ekspresi seni khas Cirebon.
- Jangka Panjang: Mendorong penyusunan rekomendasi dan regulasi resmi—baik berupa Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Wali Kota (Perwali), maupun instrumen hukum lainnya—agar memiliki landasan formal yang kuat.
