Media Barat Soroti Motif Netanyahu di Balik Rencana Kuasai 70 Persen Gaza

Master Plan Jared Kushner untuk Gaza seperti disampaikan di Davos pada 22 Januari 2026. - (X)
Master Plan Jared Kushner untuk Gaza seperti disampaikan di Davos pada 22 Januari 2026. - (X)
0 Komentar

PERLUASAN wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel akan menjadi pelanggaran langsung terhadap perjanjian gencatan senjata Oktober lalu, resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengesahkannya, serta rencana perdamaian 20 poin yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam rencana tersebut, ditetapkan sebuah Garis Kuning sementara yang membagi Jalur Gaza menjadi dua wilayah, yakni area yang dikelola Israel dan area yang dikelola Hamas, sambil menunggu perundingan perdamaian lanjutan.

Rencana Trump juga menegaskan, “Tidak seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza. Mereka yang ingin pergi bebas untuk melakukannya dan bebas untuk kembali. Kami akan mendorong masyarakat untuk tetap tinggal dan memberi mereka kesempatan membangun Gaza yang lebih baik.”

Baca Juga:Pulau Katang di Kepri Viral Dijual Rp65 Miliar, Pemerintah Buka SuaraMarketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata Mendag

Muhammad Shehada, peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (European Council on Foreign Relations), mengatakan Netanyahu kini pada dasarnya menyatakan bahwa seluruh kesepakatan Trump dan kerangka penyelesaian Gaza sudah tidak berlaku lagi. Itulah inti persoalannya.

“Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya,” kata dia, dikutip dari The Guardian, Sabtu (30/5/2026).

Pasukan Israel secara sistematis telah menghancurkan bangunan-bangunan yang tersisa di wilayah yang mereka kuasai.

Jika area kendali Israel diperluas hingga mencapai 70 persen wilayah Gaza, maka sekitar 2,2 juta warga Palestina yang berhasil bertahan hidup dari perang akan dipaksa tinggal di kurang dari sepertiga wilayah asal mereka yang sejak awal memang sudah sangat padat penduduk.

“Keadaan di sana sudah sangat mengerikan. Itu adalah salah satu tempat paling padat penduduk di muka bumi,” kata Shehada.

Dia menyebut, setiap meter persegi dipenuhi keluarga pengungsi, tenda darurat, atau tempat perlindungan seadanya.

Jika wilayah yang tersedia semakin dipersempit, itu akan menjadi hukuman mati bagi banyak orang yang secara fisik sudah tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Baca Juga:Kemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi DenmarkLuhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RI

Juru bicara militer Israel menolak memberikan komentar langsung mengenai ancaman Netanyahu untuk memperluas wilayah kendali hingga 70 persen dan mengatakan bahwa masalah tersebut merupakan kewenangan tingkat politik.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, pasukan Israel terus memperluas wilayah yang mereka kuasai secara bertahap.

0 Komentar