Kemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark

Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
0 Komentar

TIGA warga negara Indonesia diduga melakukan pemalsuan riset secara terorganisir di konferensi ilmiah internasional International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, 17–21 Mei 2026.

Kasus ini viral di media sosial setelah dibongkar oleh sesama peneliti Indonesia yang hadir di konferensi tersebut.

Tiga nama yang disebut terlibat adalah Rifaldy Fajar, Prihantini, dan Rini Winarti. Keduanya, Rifaldy Fajar dan Prihantini, tercatat sebagai alumni Fakultas MIPA jurusan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang lulus pada 2017 dan 2018.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Kasus ini pertama kali diungkap oleh Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, dan Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti Indonesia di bidang clinical medicine dari University of Oxford. Keduanya mengungkap dugaan skandal ini melalui media sosial pada Senin, 25 Mei 2026.

Dalam unggahannya, Ida dan Dwi memaparkan sejumlah kejanggalan. Salah satu terduga pelaku disebut memalsukan identitas dengan berganti-ganti nama saat presentasi, hanya bermodal ganti jilbab dan nametag.

Selain pemalsuan identitas, lokasi riset yang diklaim juga dinilai tidak masuk akal: penelitian disebut dilakukan di Pegunungan Andes Peru, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara — namun seluruh penelitinya berasal dari Indonesia tanpa kolaborator lokal maupun keterangan persetujuan etik penelitian.

Para terduga pelaku menggunakan afiliasi lembaga bernama AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta. Lembaga-lembaga tersebut tidak ditemukan keberadaannya. Motif yang diduga mendorong aksi ini adalah perburuan travel grant — dana yang diberikan penyelenggara konferensi untuk membiayai perjalanan peserta terpilih.

Bukan Pertama Kali

Kasus ISPPD 2026 bukan kejadian pertama. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Oki Hidayat, menyebut kelompok yang sama diduga melakukan hal serupa di konferensi Asian Raptor Research and Conservation Network di Taiwan pada April 2025.

Saat itu, poster penelitian mereka tidak memenuhi standar panitia — dicetak dalam ukuran A4, bukan A0, ditempel dua lembar sekaligus dengan isi identik, dan para penelitinya tidak pernah muncul untuk berdiskusi.

0 Komentar