Kelompok yang sama juga diduga telah mengikuti konferensi ilmiah lain, termasuk iCRS 2025, Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, dan APASL STC 2025.
Respons Pemerintah dan Kampus
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pihaknya tengah mendalami kasus ini. Ia meminta publik mengedepankan kehati-hatian dan memberikan ruang klarifikasi kepada semua pihak.
“Praktik fabrikasi data, falsifikasi, maupun penyalahgunaan afiliasi akademik tentu tidak dapat dibenarkan,” kata Brian. Ia menambahkan bahwa berdasarkan informasi awal, para terduga pelaku tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
UNY mengonfirmasi bahwa nama Rifaldy Fajar dan Prihantini memang tercatat dalam database alumni resmi kampus, namun masih mendalami apakah keduanya adalah orang yang dimaksud. Pihak kampus berhasil menjalin komunikasi dengan Prihantini, yang meminta maaf atas kegaduhan yang membawa nama UNY dan berjanji memberikan klarifikasi. Rri
Rifaldy Fajar juga menyatakan akan memberikan klarifikasi, namun meminta waktu untuk menyusunnya secara runtut. Ia menyebut informasi yang beredar di media sosial menurutnya tidak sepenuhnya sesuai fakta. Akun media sosial keduanya dilaporkan menghilang setelah kasus ini viral
