“Kami menyaksikan pembunuhan, penangkapan, dan penculikan warga sipil di kawasan tersebut. Belakangan ini juga terlihat peningkatan aktivitas patroli milisi.”
Resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan pada November lalu menyerahkan pengawasan gencatan senjata kepada sebuah Dewan Perdamaian yang dibentuk atas prakarsa Presiden Trump.
Dewan tersebut menunjuk diplomat veteran asal Bulgaria, Nickolay Mladenov, sebagai Perwakilan Tinggi untuk Gaza.
Baca Juga:Pulau Katang di Kepri Viral Dijual Rp65 Miliar, Pemerintah Buka SuaraMarketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata Mendag
Mladenov menuai kritik luas setelah laporannya kepada Dewan Keamanan pekan lalu yang dinilai lebih banyak menyalahkan Hamas atas kegagalan pelaksanaan gencatan senjata.
Dalam laporannya, Hamas dituduh menolak melucuti senjata, sementara pelanggaran yang dilakukan Israel tidak mendapat sorotan yang setara.
Di sisi lain, Hamas telah mengisyaratkan kesediaannya untuk membahas pelucutan senjata setelah Israel memenuhi kewajibannya pada tahap pertama perjanjian gencatan senjata, khususnya menghentikan pemboman di Gaza dan menarik pasukannya kembali ke posisi awal di sepanjang Garis Kuning.
Dugaan rencana baru Amerika Serikat
Gershon Baskin, seorang analis Israel yang pernah terlibat dalam berbagai jalur negosiasi tidak resmi antara Israel dan Palestina, mengatakan—menurut penilaiannya— perjanjian gencatan senjata awal pada dasarnya sudah runtuh.
“Pemahaman saya adalah bahwa negosiasi dengan Hamas telah berakhir. Amerika telah menyampaikan tawaran mengenai pelucutan senjata yang mencakup berbagai tuntutan Hamas sejak dua bulan lalu, tetapi Hamas tidak memberikan tanggapan,” katanya.
Menurut Baskin, Amerika Serikat kemungkinan akan beralih ke rencana cadangan yang berfokus pada pembangunan kembali wilayah Zona Hijau yang berada di bawah kendali Israel.
Dalam skenario itu, warga Palestina dari wilayah yang dikelola Hamas hanya akan diizinkan pindah ke Zona Hijau setelah melalui proses pemeriksaan untuk memastikan mereka tidak memiliki hubungan dengan Hamas atau kelompok bersenjata lainnya.
Baca Juga:Kemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi DenmarkLuhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RI
“Pada akhirnya, menurut pandangan Amerika, hanya Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lain yang akan tersisa di Zona Kuning. Setelah itu Israel akan bebas menangani mereka sesuai keinginannya. Itulah pola pikir dan perencanaan yang saya lihat akan terjadi dalam beberapa minggu dan bulan mendatang,” ujar Baskin.
Pertimbangan politik NetanyahuSejumlah analis Israel menilai bahwa sikap yang lebih agresif di Gaza dapat menguntungkan posisi politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah menghadapi pertarungan berat menjelang pemilu akhir tahun ini.
