PEMERINTAH Kota Cirebon mendorong pelestarian tradisi jamu sebagai warisan budaya yang tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kreatif. Upaya tersebut diwujudkan melalui Festival Jalur Rempah Episode 3 Tahun 2026 bertajuk Cirebon Cultural Wellness Workshop Jamu Tradisional dan Jamu Perawatan Pengantin yang digelar di Keraton Kacirebonan.
Kegiatan yang melibatkan Pemerintah Kota Cirebon, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kota Cirebon, Keraton Kacirebonan, serta sejumlah mitra ini menjadi ruang kolaborasi untuk menghidupkan kembali tradisi meracik jamu sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha berbasis budaya.
Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, mengatakan penyelenggaraan Festival Jalur Rempah yang telah memasuki episode ketiga menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya leluhur.
Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul
“Kegiatan ini bukan sekadar festival, tetapi bentuk keseriusan kita dalam melestarikan kebudayaan dan keterampilan yang diwariskan para leluhur. Tradisi tersebut harus terus dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Farida, jamu tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang lahir dari pengetahuan leluhur dalam memanfaatkan rempah-rempah sebagai sarana menjaga kesehatan dan kebugaran.
Di tengah meningkatnya tren back to nature, ia menilai jamu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif, termasuk di sektor jasa pernikahan dan kecantikan.
Ia menambahkan, para perias pengantin memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan kembali tradisi tersebut. Selain menguasai keterampilan tata rias, mereka juga dapat menghadirkan layanan perawatan berbasis jamu tradisional yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.
“Kolaborasi antara HARPI Melati, Keraton Kacirebonan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta dunia usaha merupakan langkah yang tepat. Sinergi seperti inilah yang akan menjadikan budaya lokal tidak hanya lestari, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ketua HARPI Melati Kota Cirebon, Wiwit Widyawati, mengatakan workshop diikuti 75 peserta dari wilayah Ciayumajakuning. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi pelaku tata rias pengantin sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya Nusantara.
“Festival Jalur Rempah bukan hanya mengenang kejayaan rempah Nusantara, tetapi juga menjadi momentum melestarikan tradisi meracik jamu sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia,” ujarnya.
