SEJAK 7 Oktober 2023, peta kendali militer Israel di wilayah sekitarnya tidak lagi sekadar berupa garis-garis yang diumumkan dalam pernyataan resmi atau digambar di peta militer. Setiap kali tercapai kesepakatan gencatan senjata, muncul peta baru.
Dan setiap kali peta itu diterbitkan, pertanyaan tentang wilayah pun kembali mengemuka: di mana sebenarnya pasukan Israel berada? Apakah tanda-tanda di lapangan, operasi penghancuran, dan pembangunan pos militer sesuai dengan batas yang diumumkan di atas kertas?
Berangkat dari pertanyaan tersebut, tim investigasi digital Unit Sumber Terbuka Jaringan Aljazeera, dikutip Kamis (28/5/2026), menelusuri tiga wilayah yang membentuk batas baru kehadiran militer Israel: Jalur Gaza, Lebanon Selatan, dan Suriah Selatan.
Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark
Di Gaza, investigasi dimulai dari “garis kuning” yang muncul dalam peta kesepakatan gencatan senjata sebagai batas wilayah kontrol di dalam Jalur Gaza, lalu ditelusuri melalui blok-blok semen berwarna kuning yang terlihat di lapangan.
Di Lebanon Selatan, investigasi bergerak menuju zona militer yang diumumkan Israel setelah kesepakatan gencatan senjata berikutnya, kemudian diuji melalui citra satelit untuk melihat apa yang benar-benar terjadi di kota-kota perbatasan setelah kesepakatan berlaku.
Sementara di Suriah Selatan, yang tidak memiliki peta resmi Israel seperti dua wilayah lainnya, penelusuran dimulai dari lokasi-lokasi militer permanen di luar “Garis Alpha”, serta data mengenai operasi penyusupan berulang ke wilayah Suriah.
Karena setiap wilayah menghadirkan jenis bukti yang berbeda, investigasi ini menggabungkan peta resmi yang diterbitkan militer Israel, citra satelit yang diambil setelah kesepakatan gencatan senjata, analisis geografis menggunakan sistem informasi geografis (GIS), serta data dari proyek Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED).
Tujuannya bukan untuk menggambar peta baru, melainkan menguji peta-peta yang sudah ada berdasarkan fakta di lapangan, langkah demi langkah.
Di Gaza, kisah ini bermula dari garis yang digambar militer Israel dalam peta setelah kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 10 Oktober 2025.
Garis itu dikenal sebagai “garis kuning”, yang disebut sebagai batas wilayah kendali militer Israel di dalam Jalur Gaza, dengan luas sekitar 200 kilometer persegi menurut peta Israel sendiri.
