Lebanon Selatan
Pola yang tampak di Gaza juga muncul di Lebanon Selatan, namun dalam skala lebih luas. Berdasarkan peta resmi yang diterbitkan militer Israel setelah kesepakatan gencatan senjata pada 17 April 2026, wilayah yang berada di bawah kontrol militer Israel di Lebanon Selatan mencapai sekitar 570 kilometer persegi.
Luas itu mencakup lebih dari setengah total wilayah yang direbut Israel setelah 7 Oktober di Gaza, Suriah Selatan, dan Lebanon Selatan secara keseluruhan.
Namun seperti di Gaza, pertanyaan utamanya bukan hanya mengenai batas yang diumumkan di atas peta. Apakah aktivitas militer benar-benar berhenti di dalam zona tersebut? Ataukah fakta di lapangan menunjukkan cakupan yang lebih luas?
Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark
Untuk mengujinya, investigasi melakukan peninjauan temporal terhadap citra satelit yang mencakup periode 24 April hingga 19 Mei 2026, yakni bulan pertama setelah gencatan senjata berlaku.
Hasil analisis menunjukkan bahwa operasi penghancuran bangunan tidak hanya terjadi di dalam zona garis kuning yang diumumkan Israel pada April 2026, tetapi juga di sejumlah kota di luar batas tersebut.
Perbandingan citra memperlihatkan adanya bangunan yang dihancurkan setelah kesepakatan gencatan senjata di wilayah yang berada di luar garis resmi.
Salah satu contohnya adalah kota Zoutr El Sharqiyeh. Citra pada 24 April 2026 memperlihatkan kawasan itu sebelum penghancuran, sedangkan citra 19 Mei 2026 menunjukkan kerusakan besar setelah operasi peledakan, lengkap dengan posisi garis kuning sebagai pembanding.
Seperti halnya di Gaza, penting membedakan antara dua tingkat pembacaan. Pertama, wilayah yang secara resmi diumumkan Israel sebagai area kontrol militer. Kedua, ruang aktivitas militer yang lebih luas sebagaimana terlihat dari citra satelit pasca-gencatan senjata di luar batas resmi.
Suriah Selatan
Di Suriah Selatan, kisahnya berbeda. Tidak ada garis resmi seperti “garis kuning” yang diumumkan Israel sebagaimana di Gaza atau Lebanon Selatan. Karena itu, menguji realitas di lapangan menjadi lebih rumit.
Investigasi di wilayah ini tidak bertumpu pada pengujian batas resmi, melainkan pada kerja geografis independen untuk memetakan apa yang benar-benar terbentuk di lapangan.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Penelusuran mengarah pada jaringan pos militer permanen Israel yang dibangun di luar “Garis Alpha”, yaitu garis pemisah antara Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan wilayah Suriah lainnya berdasarkan Perjanjian Pelepasan Pasukan tahun 1974 antara Israel dan Suriah.
