TEPAT pada 12 September 1984, lembaran sejarah kelam terukir di bumi pertiwi. Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, berubah menjadi lautan darah setelah bentrokan berdarah meletus antara ribuan massa Islam dan aparat keamanan di era pemerintahan Orde Baru (Orba). Ribuan orang tumpah ke jalan, namun disambut dengan timah panas senapan otomatis militer.
Insiden berdarah ini bermula dari kebijakan represif rezim Orba pada awal 1980-an yang mewajibkan seluruh organisasi dan elemen masyarakat berasaskan tunggal Pancasila. Suasana politik yang kian mengekang membuat ruang gerak umat Islam kian sempit, hingga berujung pada penangkapan sejumlah tokoh agama yang dituduh subversif.
Pemantik di Rumah Ibadah
Bibit ketegangan bermula pada Sabtu, 8 September 1984, di Musala As-Sa’adah, Koja, Tanjung Priok. Dua bintara pembina desa (Babinsa) mendatangi tempat ibadah tersebut tanpa melepas alas kaki untuk mencopot pamflet yang dianggap memuat ujaran kebencian terhadap pemerintah.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
Tak hanya mencopot, oknum aparat tersebut nekat menyiram pamflet menggunakan air comberan dari got karena tidak membawa alat penghapus. Tindakan pelecehan terhadap rumah ibadah ini memantik kemarahan warga dan jemaah setempat.
Situasi kian memanas ketika upaya mediasi yang dimotori tokoh masyarakat Amir Biki tidak digubris oleh pihak Kodim untuk membebaskan empat warga yang sempat ditahan akibat protes sebelumnya.
Aksi Damai Berujung Pembantaian
Merasa dipermainkan oleh aparat, Amir Biki menggalang konsolidasi massa. Dalam orasinya, ia menegaskan agar massa melakukan aksi protes damai tanpa perusakan demi menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang ditahan.
Namun, pada pagi hari tanggal 12 September 1984, sekitar 1.500 massa yang bergerak menuju Polres dan Kodim Tanjung Priok justru disambut barikade pasukan militer bersenjata lengkap beserta kendaraan taktis panser.
Saat massa merangsek sambil melantunkan takbir, aparat langsung memberondong mereka dengan rentetan peluru tajam. Dua truk pasukan yang datang dari arah pelabuhan bahkan dilaporkan menerjang dan melindas massa yang sedang bertiarap di jalanan. Tokoh sentral Amir Biki turut menjadi salah satu korban tewas dalam tragedi memilukan tersebut.
Misteri Jumlah Korban Jiwa
