PELATIH Timnas Indonesia, John Herdman, membawa misi besar dan krusial saat membawa Skuad Garuda menghadapi Thailand di partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026. Di luar ambisi merengkuh trofi juara perdana, pelatih asal Inggris tersebut bertekad memutus tren negatif dan memperbaiki rekor pertemuan Indonesia atas tim berjuluk Gajah Perang tersebut.
Duel final ideal yang dinanti-nanti publik sepak bola Asia Tenggara ini dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Senin (5/10/2026) malam pukul 20.00 WIB.
Bayang-bayang Sejarah dan Momentum Kebangkitan
Berdasarkan catatan statistik pertemuan (head-to-head), dominasi memang masih memihak Thailand. Dari total 78 kali bentrokan sejak tahun 1957, Indonesia membukukan 25 kemenangan, sementara Thailand mengantongi 37 kemenangan, dan 16 laga sisanya berakhir imbang. Kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand sendiri terakhir kali dirasakan pada 14 Desember 2016 silam di ajang Piala AFF.
Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM
Kendati demikian, Herdman menegaskan bahwa momentum emas untuk membalikkan sejarah kini berada di tangan Skuad Garuda.
“Ya, saya sudah melihat sejarah pertandingan antara kedua tim. Saya pikir Thailand telah memenangkan cukup banyak pertandingan melawan Indonesia, jadi saya yakin mereka akan percaya diri. Mereka memiliki sejarah mengalahkan Indonesia,” ujar Herdman dalam sesi jumpa pers pra-pertandingan di Jakarta, Minggu (4/10/2026).
“Jadi bagi kami, ini merupakan langkah penting, para pemain harus memastikan mereka mampu mengambil langkah tersebut untuk membalikkan tren itu,” imbuhnya.
Keunggulan Kualitas Kontra Faktor Pengalaman
Menyoroti kekuatan sang lawan, Herdman secara terbuka mengakui bahwa Thailand memiliki keunggulan signifikan dari aspek pengalaman tampil di turnamen internasional dan pemahaman karakter bermain di level Asia di bawah asuhan pelatih Anthony Hudson.
Namun, ia juga menekankan bahwa Timnas Indonesia memiliki modal tanding yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kombinasi pemain muda potensial serta kehadiran pilar-pilar keturunan yang berpengalaman menempa ilmu di liga-liga elite Eropa memberikan keunggulan tersendiri dari segi kualitas teknis individu.
“Secara kualitas, kami memiliki lebih banyak pemain yang bermain di liga dengan level lebih tinggi, sehingga kami memiliki keunggulan secara kualitas. Namun, seperti yang dikatakan Kevin [Diks], jika pola pikir kami tidak tepat, semua itu tidak berarti,” pungkas Herdman.
