Mengapa Mossad Disebut Terlibat Krisis Maroko?

Bendera Israel dan Maroko.
Bendera Israel dan Maroko.
0 Komentar

Menurut catatan Michael M. Laskier, dalam North African Jewry in the Twentieth Century: The Jews of Morocco, Tunisia, and Algeria (1994: 204), Mossad kemudian membangun jaringan bawah tanah untuk membantu mereka keluar dari Maroko.

“Jika rencana perjalanan mengharuskan penggunaan jalur darat, para emigran akan dikawal oleh penyelundup dari Tangier atau Tetuan melintasi perbatasan utara menuju wilayah kantong Spanyol di Ceuta,” tulis Laskier.

Pada 10 Januari 1961, upaya tersebut berujung tragedi tenggelamnya kapal Egoz di perairan utara Maroko bersama 44 emigran Yahudi. Peristiwa itu meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintah Maroko dan membuka jalan menuju perundingan rahasia.

Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Setelah itu, dijalankanlah Operasi Yachin, mulai 1961 hingga 1964. Menurut Brahim El Guabli dalam buku Moroccan Other-Archives: History and Citizenship after State Violence (2023:9), setelah menggantikan ayahnya, Raja Muhammad V, Hassan II mengizinkan warga Yahudi meninggalkan Maroko. Ia memfasilitasi emigrasi orang Yahudi Maroko ke Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Maroko menerima pembayaran berdasarkan jumlah warga Yahudi yang diizinkan pergi. Jumlah warga Yahudi yang meninggalkan Maroko saat itu berkisah 90.000 hingga 100.000 orang.

Operasi itu pun membuka komunikasi langsung antara Mossad dan pejabat keamanan Maroko. Hubungan yang semula dibangun untuk mengurus emigrasi perlahan berkembang menjadi kerja sama intelijen.

Hassan II membutuhkan kemampuan intelijen untuk menghadapi lawan politiknya dan Israel memenuhi kebutuhan itu. Sebagai timbal balik, Maroko memberikan akses kepada Israel terkait informasi dunia Arab. Hubungan itulah yang menjadi latar kebocoran informasi KTT Casablanca 1965 kepada Israel.

Kedalaman hubungan tersebut kembali terlihat dalam kasus Mehdi Ben Barka, tokoh oposisi Maroko yang hidup dalam pengasingan.

Ben Barka sempat mencari dukungan Israel untuk melawan Hassan II. Namun, Israel memilih mempertahankan hubungannya dengan kerajaan Maroko.

Ketika aparat Maroko memburunya pada 1965, Menteri Dalam Negeri Mohammed Oufkir dan Letnan Kolonel Ahmed Dlimi meminta bantuan Mossad. Badan intelijen Israel itu membantu melacak Ben Barka dan menyerahkan informasi keberadaannya kepada Maroko.

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

Pada 29 Oktober 1965, Ben Barka diculik di Paris. Ia diyakini telah dibunuh. Namun, jasadnya tidak pernah ditemukan.

0 Komentar