SEPTEMBER 1965, para pemimpin negara-negara Arab tiba di Casablanca, Maroko, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab. Raja Hassan II, sebagai tuan rumah, menyambut perwakilan Mesir, Suriah, Yordania, dan negara Arab lainnya.
Di tengah ketegangan politik Asia Barat, mereka berkumpul di Hotel Mansour untuk membahas kesiapan militer menghadapi Israel. Mereka membeberkan kekuatan pasukan, persenjataan, hingga strategi menghadapi kemungkinan perang.
Informasi rahasia tersebut ternyata sampai ke telinga Israel. Ada beberapa versi mengenai mekanisme kebocorannya. Mantan perwira intelijen Israel, Rafi Eitan, mengatakan bahwa tim gabungan Mossad dan Shin Bet semula mendapat akses untuk menyadap pertemuan. Namun, karena Hassan II khawatir keberadaan mereka diketahui oleh para tamunya dan meminta tim Israel meninggalkan hotel, intelijen Maroko mengambil alih penyadapan. Mereka merekam pembicaraan, lalu menyerahkan dokumen dan rekamannya kepada Israel.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Informasi tersebut memperlihatkan kelemahan militer dan ketidaksatuan strategi negara-negara Arab. Militer Israel kemudian mempelajarinya sebagai bagian dari informasi intelijen menjelang Perang Enam Hari pada 1967.
Enam puluh satu tahun kemudian, perhatian kembali tertuju ke Maroko. Pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026, sekitar 72.000 orang berbondong-bondong menuju kota perbatasan Fnideq, berusaha menyeberang ke Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara. Gelombang kedatangan itu membuat fasilitas penerimaan Ceuta penuh sehingga pemerintah lokal meminta Madrid menetapkan status darurat nasional.
Di tengah berbagai pertanyaan mengenai pemicu krisis tersebut, pengamat politik bernama Nadia Helmy menerbitkan analisis di Modern Diplomacy pada 2 Agustus 2026. Salah satu hipotesis yang dibahasnya menyentuh kemungkinan peran badan intelijen asing, termasuk Mossad dan CIA.
Belum ada bukti yang menguatkan dugaan keterlibatan keduanya. Namun, munculnya nama Mossad membuka pertanyaan lain: mengapa badan intelijen Israel dikaitkan dengan krisis yang melibatkan Maroko?
Hubungan Rahasia Maroko dan Israel Jauh Mendahului Normalisasi
Kerja sama intelijen Maroko dan Israel bermula dari persoalan emigrasi. Setelah Maroko merdeka dari Prancis pada 1956, komunitas Yahudi yang berjumlah ratusan ribu orang menghadapi situasi politik tidak menentu. Nasionalisme Arab dan sentimen anti-Zionisme menguat, sementara pemerintah Maroko di bawah Raja Muhammad V melarang emigrasi warga Yahudi ke Israel.
