Kasus Dokter PPDS Unsrat Masuk Babak Baru, Dugaan Bullying Diusut

Dokter PPDS Adrian Rantung. (Instagram/@kemenkes_ri)
Dokter PPDS Adrian Rantung. (Instagram/@kemenkes_ri)
0 Komentar

SEORANG dokter peserta aktif Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang menjalani pendidikan klinis di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado bernama dr. Adrian Rantung meninggal dunia.

dr. Adrian diduga meninggal dunia karena mengakhiri hidupnya sendiri setelah tidak kuat dengan tekanan pekerjaan dan juga perundungan yang dialaminya.

Peristiwa bermula ketika dr. Adrian dijadwalkan menjalani tugas jaga di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Namun, pada hari pelaksanaan tugas tersebut, ia tidak hadir sebagaimana mestinya dan juga tidak dapat dihubungi oleh rekan-rekan sejawatnya.

Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena ketidakhadiran tanpa kabar bukan merupakan hal yang lazim dalam pelaksanaan tugas pelayanan rumah sakit.

Setelah berbagai upaya menghubungi tidak membuahkan hasil, sejumlah rekan sejawat kemudian memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal dr. Adrian di sebuah rumah kos di Kota Manado guna memastikan keadaannya.

Sesampainya di lokasi, rekan-rekan sejawat menemukan dr. Adrian telah meninggal dunia di dalam kamar kosnya. Penemuan tersebut segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk dilakukan penanganan sesuai prosedur.

Berdasarkan informasi yang beredar, salah satunya dikutip dari akun X @chaaaaww, pada tahap awal, ditemukan sebuah pesan tertulis yang diduga berisi curahan hati mengenai tekanan, kelelahan, serta beban kerja selama menjalani pendidikan dokter spesialis.

Informasi tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa almarhum mengalami tekanan psikologis yang berat. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah belum menyatakan secara resmi bahwa isi pesan tersebut telah terverifikasi maupun menjadi dasar penetapan penyebab kematian.

Penyebab pasti meninggalnya dr. Adrian masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan yang dilakukan aparat berwenang.

Tidak lama setelah kabar meninggalnya dr. Adrian tersebar, media sosial dan sejumlah media massa mulai ramai membahas dugaan adanya praktik perundungan (bullying) dalam lingkungan pendidikan PPDS Anestesiologi.

Baca Juga:Draft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat HormuzMenkeu Amerika Serikat Umumkan Rampas Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun

Dugaan tersebut menguat setelah beredar dokumen atau memo yang disebut-sebut berisi keluhan mengenai tekanan selama menjalani pendidikan. Publik kemudian menyoroti kemungkinan adanya budaya senioritas, intimidasi, maupun beban kerja yang dinilai berlebihan dalam lingkungan pendidikan dokter spesialis.

0 Komentar