Ironi Pasar Palimanan Rp 15 M: Sepi, 225 Pedagang Gulung Tikar, hingga Eksodus Toko Emas

uasana Pasar Palimanan yang tampak lengang. Usai direvitalisasi, aktivitas jual beli menurun, ratusan pedagang
Suasana Pasar Palimanan yang tampak lengang. Usai direvitalisasi, aktivitas jual beli menurun, ratusan pedagang berhenti berjualan, dan puluhan toko emas memilih pindah ke luar area pasar.
0 Komentar

WAJAH Pasar Palimanan kini jauh panggang dari api masa lalunya. Dinding-dindingnya dibalut cat segar, kios tersusun dalam barisan yang rapi, dan strukturnya tampak berdiri lebih megah setelah menelan anggaran revitalisasi lebih dari Rp15 miliar.

Namun, di balik polesan modern itu, denyut perdagangan justru meredup. Suara riuh tawar-menawar yang dulu menjadi nyawa setiap sudut pasar kian jarang terdengar.

Lorong-lorong kini banyak yang lengang. Sejumlah rolling door terkunci rapat, sementara sebagian kecil pedagang lainnya tampak duduk termenung, sabar menanti pembeli yang enggan mampir.

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

Sejak dibangun ulang dengan konsep dua lantai, aktivitas ekonomi di pasar tradisional terbesar di wilayah barat Cirebon itu dilaporkan terus merosot. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon, Suhartono, tidak menutup mata atas lesunya geliat pasar tersebut.

“Salah satu penyebabnya memang perubahan fisik bangunan menjadi dua lantai,” ujar Suhartono, didampingi Kepala Bidang Sarana dan Pelaku Distribusi Disdagin, Teguh Mulyono.

Menurut Suhartono, desain bangunan bertingkat ternyata berbenturan dengan karakter asli pasar tradisional. Ketika pasar disulap menjadi dua lantai, sebagian pedagang yang semula beroperasi di lantai dasar sempat dipindahkan ke atas. Namun, minimnya minat pengunjung untuk naik ke lantai dua membuat roda dagang macet. Barang-barang menumpuk tanpa pembeli, memaksa sebagian pedagang nekat turun kembali ke lantai bawah.

“Karakter pasar tradisional sangat bergantung pada arus pembeli. Ketika aktivitas pengunjung tidak naik ke lantai dua, pedagang ikut kehilangan pembeli,” kata Suhartono.

Dampaknya kasat mata. Dari total 527 pedagang yang tercatat memiliki hak menempati kios, los, maupun lapak, kini hanya tinggal 302 pedagang yang bertahan membuka dagangannya. Sebanyak 225 pedagang memilih gulung tikar dan meninggalkan tempat yang telah disediakan pemerintah.

“Jumlah pedagang Pasar Palimanan yang terdiri dari kios, los, maupun lemprakan ada 527. Dari jumlah tersebut, 225 pedagang tutup,” ungkap Suhartono.

Ia berdalih, keputusan membangun pasar bertingkat pada mulanya telah melalui kajian teknis. Keterbatasan lahan menjadi alasan utama mengapa desain dua lantai dipilih agar seluruh pedagang tertampung. Namun, realitas di lapangan membuktikan bahwa cetak biru arsitektur modern kerap gagal membaca pola perilaku belanja masyarakat tradisional yang mengutamakan kepraktisan dan kemudahan akses.

0 Komentar