Meski demikian, pemerintah daerah bergeming untuk pasrah. Disdagin mengklaim tengah menyiapkan sejumlah langkah taktis untuk menghidupkan kembali denyut nadi pasar. Salah satunya dengan menggandeng Perum Bulog mendirikan Kios Pengendali Inflasi di area pasar. Kehadiran kios ini diharapkan menjadi daya tarik baru untuk memancing kedatangan warga, sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Di sisi lain, Disdagin juga sedang mematangkan skema relaksasi bagi para pedagang agar mereka tergerak kembali mengisi ratusan kios yang kini dibiarkan kosong. Saat ini, beban operasional harian pedagang di sana dipatok retribusi sebesar Rp5.500 per hari, ditambah iuran kebersihan Rp2.000 per hari.
Lesunya transaksi jual-beli ini seketika merembet pada pundi-pundi pendapatan daerah. Berdasarkan catatan Disdagin hingga Juli 2026, realisasi retribusi Pasar Palimanan baru terkumpul Rp237 juta, atau tersendat di angka 45,57 persen dari target tahunan senilai Rp432 juta.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
Eksodus pedagang dari dalam pasar turut dikonfirmasi oleh Teguh Mulyono. Ia membeberkan sebuah fakta mencolok mengenai runtuhnya benteng ekonomi para pedagang lama: sebanyak 35 toko emas yang selama puluhan tahun menjadi magnet dan ikon utama Pasar Palimanan memilih angkat kaki. Mereka berbondong-bondong menyewa ruko-ruko di seberang jalan luar pasar.
“Padahal, biaya retribusi di dalam pasar relatif lebih murah. Namun, karena kunjungan pembeli terus menurun, mereka memilih pindah ke luar pasar,” pungkas Teguh.
