PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkit isu komunisme sebagai ancaman bagi kebebasan Amerika. Dalam momen peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, menyebut masa kekuasaan komunisme di era Perang Dingin adalah masa kelam bagi negara adidaya tersebut. Isu komunisme, menurut Trump, adalah salah satu ancaman selain Perang Dunia I dan II hingga Tragedi Menara Kembar WTC.
“Komunisme adalah ancaman mematikan bagi kebebasan Amerika. Ini adalah ancaman terbesar bagi negara kita, termasuk Perang Dunia I, Perang Dunia II, Pearl Harbor, atau bahkan 9/11,” kata Trump di Dakota Selatan, wilayah tengah AS dilansir APNews, Sabtu (4/7/2026).
Dalam pemberitaan lain di CBSNews, Trump menyatakan bahwa komunis adalah ancaman yang dibawa oleh para pendatang ke dalam AS. Menurut Trump, ide dari para pendatang tersebut bertentangan dengan gagasan kebebasan yang tumbuh subur di AS.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
“Sekarang ada kebangkitan kembali ancaman komunis di negeri kita, termasuk dari pendatang baru di negara kita yang menganut ide-ide yang sama sekali bertentangan dengan cara hidup kita dan kesuksesan besar kita,” kata Trump dikutip dari CBSNews.
Trump mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh memiliki identitas ganda ketika menjadi warga AS. Dia memberi pilihan apakah dia menjadi seorang pahlawan ataupun komunis. Trump pun menegaskan keduanya tidak boleh dilakukan secara bersamaan.
“Anda bisa menjadi seorang komunis, atau Anda bisa menjadi seorang patriot. Anda tidak bisa menjadi keduanya,” terangnya.
Selain mempromosikan semangat antikomunisme, Trump juga mengkampanyekan Partai Republik untuk dipilih kembali dalam Pemilu mendatang. Dia berjanji jika partainya menang, maka Undang-undang SAVE yang berisikan gagasan soal penunjukkan kartu identitas sebagai syarat pemilih akan diwujudkan.
Dia menekankan, semua pidatonya adalah berkenaan dengan budaya Amerika. Pria yang sudah dua kali memenangkan pemilu itu berseloroh tidak ada kebebasan tanpa dilandasi oleh budaya dan rakyat Amerika.
“Saat kita memasuki tahun ke-250, tahun yang luar biasa dan indah ini, kita tidak boleh lupa: Tidak ada kebebasan Amerika tanpa budaya Amerika, dan tidak ada pendirian Amerika tanpa rakyat Amerika,” ujar Trump.
