Koalisi Internal Iran Kian Solid, Informasi Intelijen Sebut Barat Tak Menyadarinya

Foto dokumentasi bertanggal 22 September 2018 ini memperlihatkan pawai Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dala
Foto dokumentasi bertanggal 22 September 2018 ini memperlihatkan pawai Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam parade militer tahunan, untuk memperingati pecahnya perang tahun 1980-1988 melawan pemerintahan Saddam Hussein di Irak, di Teheran, Iran. (Stringer/AFP)
0 Komentar

SEBUAH artikel yang diterbitkan harian Inggris The Telegraph mengungkap adanya perubahan mendalam dan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran, khususnya di tubuh Garda Revolusi Iran (IRGC).

Menurut penulis artikel tersebut, Barat masih belum menyadari proses restrukturisasi besar yang tengah berlangsung di pusat pemerintahan Iran, yang dipimpin oleh aliansi tidak resmi antara sejumlah tokoh keamanan dan militer berpengaruh. Aliansi ini dinilai berpotensi mengubah peta keseimbangan kekuatan di Teheran.

Artikel yang ditulis oleh Kasra Aarabi dan Saeid Golkar itu berangkat dari pandangan bahwa banyak analisis Barat mengenai situasi politik Iran masih bersifat dangkal dan kurang memahami pusat-pusat kekuasaan yang sesungguhnya di negara tersebut.

Baca Juga:Pulau Katang di Kepri Viral Dijual Rp65 Miliar, Pemerintah Buka SuaraMarketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata Mendag

Terutama setelah perubahan kepemimpinan terbaru dan absennya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serta menghilangnya putranya sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei.

Pada awalnya, banyak pihak menganggap Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai orang kuat baru di Iran. Namun, artikel tersebut menilai gambaran itu menyesatkan.

Menurut penulisnya, Ghalibaf justru semakin tersisih dari lingkaran kekuasaan dan kehilangan kepercayaan, bahkan di kalangan jaringan Garda Revolusi sendiri.

Sebaliknya, nama Ahmad Vahidi kini disebut-sebut sebagai pemimpin de facto baru Garda Revolusi. Klaim ini, menurut artikel tersebut, didukung oleh sejumlah sumber intelijen Barat.

Meski menempati posisi sentral, Vahidi menghadapi tantangan besar karena tidak memiliki basis pengaruh yang kuat di kalangan generasi muda Garda Revolusi maupun pasukan Basij.

Terutama karena selama bertahun-tahun ia lebih banyak menduduki jabatan pemerintahan dan tidak terlibat langsung dalam komando lapangan.

Di sinilah muncul sosok yang dinilai lebih penting dan kompleks dalam dinamika terbaru Iran, yakni mantan komandan Garda Revolusi, Mohammad Ali Jafari.

Baca Juga:Kemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi DenmarkLuhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RI

Menurut artikel tersebut, Jafari merupakan salah satu arsitek utama transformasi strategis Garda Revolusi selama masa kepemimpinannya.

Ia dikenal karena merancang restrukturisasi organisasi melalui sistem desentralisasi, sebuah model yang memungkinkan Garda Revolusi beradaptasi dengan perang maupun gejolak internal.

Selain itu, Jafari berperan penting dalam pembentukan jaringan intelijen, pengembangan kemampuan siber, dan penyempurnaan strategi perang asimetris Iran.

0 Komentar