Sebaran Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau dan Penjelasan Gas Sulfur Dioksida

Citra satelit sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok BMKG)
Citra satelit sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok BMKG)
0 Komentar

GUNUNG Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas erupsi dengan sebaran debu vulkanik yang terdeteksi di atmosfer pada hari ini, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan informasi terbaru, sebaran abu teramati dari permukaan hingga ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer dan bergerak ke arah selatan-barat daya, terutama menuju Samudra Hindia di sebelah barat laut Banten.

Selain abu vulkanik, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada 4-6 September juga menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) yang terdeteksi melalui pemantauan satelit.

Sebaran Abu dan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Hari Ini

Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan

Berdasarkan informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan VAAC Darwin, serta analisis citra satelit RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WIB, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menghasilkan sebaran debu vulkanik yang terdeteksi di atmosfer.

Namun, dibandingkan kondisi yang dilaporkan BMKG pada 6 September, sebaran yang teridentifikasi dalam pembaruan hari ini berada pada ketinggian yang jauh lebih rendah, yaitu dari permukaan hingga sekitar 6.000 kaki atau 1,8 km.

Arah pergerakannya terpantau menuju selatan-barat daya, dengan cakupan terutama di Samudra Hindia sebelah barat laut Banten. Artinya abu vulkanik mulai menjauhi wilayah daratan.

Abu vulkanik yang teridentifikasi saat pengamatan tidak lagi dilaporkan mencapai ketinggian ekstrem seperti 20.000 hingga 50.000 kaki seperti yang tercatat sebelumnya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yaitu mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi. Erupsi diketahui terjadi sekitar pukul 05.34 WIB.

“Telah terjadi erupsi G. Anak Krakatau, Lampung pada tanggal 08 September 2026 pukul 05:34 WIB,” demikian keterangan Badan Geologi dikutip melalui media sosial Threads, Selasa.

Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 44 milimeter. Durasi erupsi tercatat sekitar 10 detik. Meskipun demikian, tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Baca Juga:Apa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?Heboh Video Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu di Depan Jokowi, Projo Buka Suara

Adapun, kondisi Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Level III (Siaga).

Pada 6 September 2026, BMKG melaporkan, berdasarkan analisis citra satelit pada pukul 08.00 WIB, diidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang cakupannya sangat luas, meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang telah menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) pertama tidak lama setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

0 Komentar