Sebaran Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau dan Penjelasan Gas Sulfur Dioksida

Citra satelit sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok BMKG)
Citra satelit sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok BMKG)
0 Komentar

SIGMET merupakan peringatan meteorologi penting bagi penerbangan yang digunakan untuk memberikan informasi mengenai fenomena cuaca atau kondisi atmosfer yang dapat membahayakan penerbangan.

Hingga 6 September, BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET secara berkala. Sebaran abu saat itu dilaporkan mencapai 20.000 kaki ke arah timur dan bahkan 50.000 kaki ke arah barat.

Pada lapisan hingga 20.000 kaki, abu vulkanik bergerak dari arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan

Sedangkan abu yang mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, serta Samudra Hindia.

Karena hal itulah, dikeluarkan NOTAM untuk penutupan sementara operasional di beberapa bandara, yaitu Bandar Udara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto.

Penjelasan Gas Sulfur Dioksida Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Menurut penjelasan Badan Geologi melalui akun Threads @badan.geologi, erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4-6 September 2026 tidak hanya menghasilkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar, tetapi juga mengeluarkan gas sulfur dioksida (SO2).

Badan Geologi menekankan bahwa informasi yang beredar di masyarakat tentang gas SO2 tersebut perlu dipahami secara tepat, terutama karena peta satelit SO2 yang memperlihatkan warna merah.

Badan Geologi menyebut area berwarna merah pada peta satelit tidak otomatis berarti masyarakat di wilayah tersebut sedang menghirup SO2 dalam konsentrasi berbahaya.

Peta satelit yang dijelaskan Badan Geologi menunjukkan jumlah atau anomali SO2 yang terdeteksi di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, sehingga gambaran tersebut mencakup gas yang berada di berbagai lapisan udara di atas suatu wilayah.

Pengukuran seperti ini berbeda dengan pengukuran kualitas udara di permukaan yang biasanya digunakan untuk mengetahui konsentrasi suatu gas yang benar-benar berada di sekitar hidung dan saluran pernapasan manusia.

Baca Juga:Apa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?Heboh Video Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu di Depan Jokowi, Projo Buka Suara

Warna merah pada peta, menurut penjelasan Badan Geologi, menunjukkan adanya anomali SO2 dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan kondisi udara normal pada lapisan atmosfer yang terdeteksi.

Jadi, warna tersebut lebih tepat dipahami sebagai indikasi bahwa terdapat peningkatan keberadaan SO2 dalam kolom atmosfer akibat aktivitas vulkanik. Semakin kuat anomali yang terlihat, semakin banyak SO2 yang terdeteksi dalam kolom udara tersebut.

0 Komentar