MOMEN Presiden Prabowo Subianto yang tidak menyalami Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di acara HUT TNI jadi bahan omongan publik. Pengamat politik Heru Subagia membacanya bukan sekadar urusan jabat tangan, melainkan pertanda politik yang lebih besar.
“Kalau saya melihat, ada dua representasi politik,” kata Heru, Selasa (6/10/2026).
Pertama, soal relasi sipil dan militer. Menurut Heru, kehadiran Prabowo, Jokowi, dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara yang digelar langsung oleh TNI menegaskan karakter utama pemerintahan saat ini.
“Ruang lingkup Prabowo saat ini berada dalam zona militer. Ini yang harus ditegaskan,” tegasnya.
Jokowi Akrab dengan SBY, Dingin dengan Prabowo
Baca Juga:Moskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut PantauTerungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan Ijazah
Kedua, soal reaksi publik. Usai acara, sejumlah komentator ramai menyorot secara terbuka bahwa Jokowi tidak mendapat jabat tangan dari Prabowo. Di sisi lain, Jokowi tampak akrab dengan SBY dan menyalami komandan upacara yang berlatar belakang militer.
Bagi Heru, ini bukan peristiwa biasa. Ia menilai kejadian tersebut menggambarkan cara pandang Prabowo soal hubungan sipil-militer sekaligus arah model pemerintahan yang akan dijalankan.
Reshuffle Disebut Tanda Prabowo Kikis Pengaruh Jokowi
Heru menilai hubungan Prabowo dan Jokowi kini berada di titik terendah. Banyak pihak, katanya, sudah menganggap keduanya pecah kongsi dan tidak bisa lagi ditoleransi.
Ia menyinggung sejumlah reshuffle yang disebut-sebut menyasar orang-orang sentral di lingkaran Jokowi, di antaranya Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Dudung, Pratikno, dan [nama yang tidak jelas di rekaman]. Menurutnya, ini menunjukkan keseriusan Prabowo mereduksi, bahkan menggugurkan, pengaruh Jokowi di lingkaran kekuasaannya.
Heru juga menyoroti pengangkatan sekitar 26 pejabat baru di Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Dari komposisinya, ia melihat indikasi pengaruh dan kewenangan para senior Jokowi seperti Pratikno justru dikecilkan.
“Dewan Pertimbangan Presiden ini pekerjaannya hanya memberikan usulan, tidak mengeksekusi,” ujarnya.
Militer Kian Dominan
Sebagai tokoh berlatar belakang militer, lanjut Heru, Prabowo akan banyak melibatkan unsur militer dalam kerja politik dan kebijakan di lingkarannya. Buktinya, kata dia, pos direktur jenderal, inspektur jenderal, hingga menteri sudah diisi orang-orang dekat Prabowo.
