SEJARAH kemerdekaan Indonesia selama ini sangat lekat dengan momen pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Namun, dua hari sebelumnya, sebuah peristiwa penting justru telah lebih dulu terjadi di Cirebon.
Pada 15 Agustus 1945, dr. Soedarsono membacakan pernyataan proklamasi kemerdekaan di kawasan Alun-Alun Kejaksan di hadapan sekitar 100–150 orang. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti otentik bahwa gagasan kemerdekaan telah bergerak melalui jaringan perjuangan bawah tanah jauh sebelum Proklamasi Jakarta dikumandangkan.
Peristiwa bersejarah di Cirebon ini tidak dapat dilepaskan dari dua figur sentral: Sutan Sjahrir dan dr. Soedarsono. Keduanya berada dalam lingkaran gerakan bawah tanah yang secara tegas menolak pandangan bahwa kemerdekaan Indonesia harus lahir sebagai “hadiah” atau pemberian dari pemerintah pendudukan Jepang.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Bagi Sjahrir, momentum kekalahan Jepang dari Sekutu harus segera dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kemerdekaan Indonesia murni merupakan kehendak dan perjuangan bangsa sendiri.
Ketegasan Sjahrir di Tengah Momentum Kekalahan Jepang
Pada 14 Agustus 1945, berita mengenai keputusan Jepang menyerah kepada Sekutu mulai menyebar lewat siaran radio, termasuk BBC. Sjahrir dengan cepat menangkap implikasi politik dari kabar tersebut dan mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa harus menunggu hasil pertemuan tokoh-tokoh tua dengan pejabat tinggi militer Jepang di Saigon.
Kekhawatiran Sjahrir cukup beralasan. Apabila proklamasi ditunda terlalu lama, ia khawatir kemerdekaan Indonesia akan dipersepsikan sebagai pemberian Jepang. Jalur yang ditempuh Sjahrir pun berbeda dengan Soekarno-Hatta. Melalui jaringan bawah tanah yang dipengaruhinya, pesan kemerdekaan disebarkan ke berbagai daerah, salah satunya ke Kota Cirebon.
dr. Soedarsono: Pelaksana Berani di Lapangan
Di Cirebon, simpul utama gerakan tersebut berada di tangan dr. Soedarsono, yang kala itu menjabat sebagai kepala rumah sakit Kesambi (yang kini menjadi RSUD Gunung Jati). Sebagai tokoh yang berafiliasi dengan jaringan pergerakan Sjahrir, ia menerima instruksi lewat telegram untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan.
Cirebon sendiri dipilih karena dikenal sebagai wilayah dengan basis pergerakan politik yang kuat serta memiliki ikatan historis dengan PNI Pendidikan. Instruksi tersebut diterjemahkan ke dalam aksi nyata pada 15 Agustus 1945. Di hadapan massa yang diperkirakan berjumlah 100–150 orang sebagian besar dari jaringan aktivis lokal dr. Soedarsono lantang membacakan pernyataan proklamasi di Alun-Alun Kejaksan.
