Peran Soedarsono membuktikan bahwa ia bukan sekadar pembaca teks, melainkan figur lokal yang berani mengambil risiko politik ketika situasi keamanan masih sangat membahayakan.
Misteri Naskah Proklamasi CirebonHingga hari ini, naskah asli yang dibacakan oleh dr. Soedarsono di Cirebon masih menyisakan misteri lantaran belum pernah ditemukan. Hal ini memunculkan berbagai versi di kalangan sejarawan:
- Versi Des Alwi: Anak angkat Sjahrir ini menyebutkan bahwa teks tersebut disusun oleh Sjahrir bersama para aktivis gerakan bawah tanah seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis di asrama Prapatan No. 10 Jakarta pada 13 Agustus 1945.
- Catatan Rudolf Mrazek: Dalam buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, dicatatkan bahwa Sjahrir pernah menyusun teks proklamasi sepanjang kurang lebih 300 kata yang memuat penderitaan rakyat serta penolakan terhadap kembalinya kekuasaan kolonial, meski Sjahrir sendiri mengaku kemudian kehilangan naskah tersebut.
- Versi Keluarga Maroeto Nitimihardjo: Berdasarkan kesaksian Hadidjojo Nitimihardjo, dr. Soedarsono justru tidak menerima naskah dari Sjahrir dan mengambil inisiatif mandiri untuk memproklamasikan kemerdekaan di Cirebon.
Makna Penting Peristiwa Cirebon
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Menyebut peristiwa 15 Agustus 1945 di Cirebon sebagai “proklamasi pertama” tentu harus dilakukan secara hati-hati, mengingat Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur tetaplah proklamasi nasional yang sah secara konstitusional bagi lahirnya Republik Indonesia.
Kendati demikian, peristiwa Cirebon memperlihatkan bahwa kehendak untuk merdeka telah berdenyut dan diartikulasikan di berbagai penjuru daerah sebelum Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi di Jakarta.
Sjahrir berperan sebagai penggerak gagasan dan jaringan, sementara dr. Soedarsono menjadi pelaksana lokal yang menergaskannya menjadi aksi nyata di lapangan. Hingga kini, Tugu Proklamasi di kawasan Kejaksan berdiri sebagai pengingat abadi bahwa di Cirebon, keberanian untuk bertindak pernah mengambil bentuk nyata demi menjemput masa depan bangsa.
