Kendati demikian, Aan mengaku belum mencoba menanyakan langsung soal dokumen tersebut ke rumah sakit. Dia mengungkapkan, hal lain yang menambah kecurigaan kliennya adalah belum dikembalikannya barang-barang pribadi Sutrimo, terutama dompet dan ponsel atau gawai.
Aan mengungkapkan, saat jenazah almarhum diantarkan ke Banyumas, salah satu pengantar memberikan nomor ponselnya kepada keluarga Sutrimo. “Ternyata sekarang nomor HP-nya mati tidak bisa dihubungi,” ucapnya.
Aan mengatakan, tak lama setelah kediaman Jampidsus digeledah kepolisian, Sutrimo sempat diminta pulang dulu ke Banyumas oleh Febrie Ardiansyah. “Ceritanya kepada keluarga disuruh pulang. Beberapa (pekerja) memang ada yang disuruh pulang selain Pak Sutrimo,” ungkapnya. Namun Febrie kemudian meminta Sutrimo untuk kembali lagi ke Jakarta. “Dia pulang (ke Jakarta) memang ditelepon sama Pak Febrie, pengakuan dari salah satu saksi. Intinya bosnya telepon, katanya, ‘Kamu pulang saja. Karena aku kalau mau cerita sama siapa?’,” kata Aan menyitir permintaan Febrie kepada Sutrimo. Aan mengungkapkan, saat itu Sutrimo menyampaikan kepada Febrie bahwa dia tidak punya uang. “Lalu disampaikan (oleh Febrie), ‘Tiketmu sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, lalu kamu juga ditemani oleh dua orang nanti dari Stasiun Purwokerto’,” ucapnya. Dia mengatakan, saat ini dia tengah berusaha menyusun kronologi kepergian Sutrimo kembali ke Jakarta. Karena keluarga tak mengingat tanggal kepergian Sutrimo. “Pihak keluarga kemarin mengingat-ngingat dari WA (WhatsApp), tapi ternyata di HP-nya Ibu Anis (adik Sutrimo) entah kenapa WA yang tersisa antara komunikasi dengan Pak Sutrimo itu hanya tanggal 19 sampai 23 Juli. Data yang sebelumnya hilang. Nah ini makanya lagi dipulihkan oleh kepolisian,” ujar Aan. Namun Aan dapat memastikan Sutrimo sudah kembali ke Jakarta sebelum 19 Juli 2026. “Karena saya lihat WA-nya mulai tanggal 19 Juli, Pak Sutrimo nunjukkin sedang dinas, sedang berjaga di rumah Pak Febrie,” katanya. Berdasarkan riwayat percakapannya dengan adiknya, Anis, sejak kembali ke Jakarta Sutrimo tidak pernah mengeluh sakit. Menurut Aan, Sutrimo, yang sudah bercerai dengan istrinya, rajin megirimkan foto atau video aktivitas pekerjaannya di kediaman Febrie. “Termasuk yang tanggal 23 (Juli 2026), dia itu terakhir jam 03.18 WIB mengirim foto makanan, ayam goreng, lalapan. Terus jam 04.00 WIB, dia ngirim foto lagi duduk di seberang rumahnya Pak FA,” kata Aan. Anis baru membalas pesan instan WA Sutrimo sekitar pukul 06.00 WIB. “Pesan itu dibaca, tapi tidak dibalas,” ujar Aan. Kemudian sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel Anis sempat ditelepon beberapa kali. Namun telepon tersebut tak sempat diangkat. Penelepon adalah Sutrimo. “Telepon baru diangkat jam 08.30 WIB. Ternyata yang menelepon itu orang yang mengaku temannya Pak Sutrimo. Dia mengabarkan bahwa Pak Sutrimo sudah tidak ada,” ungkap Aan. Keluarga Sutrimo terkejut menerima kabar tersebut. Apalagi sebelumnya Sutrimo tidak pernah mengeluhkan apa pun, termasuk soal penyakit diabetesnya. “Dari tanggal 19 sampai 23 Juli itu dia happy-happy saja kok. Sampai sempat mengirim foto dibelikan minyak wangi oleh ajudannya Pak Febrie, makan soto di Blok M sama ajudannya Pak Febrie. Ajudannya itu baik sama Pak Sutrimo,” katanya.
