SIANG TERIK di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, berjalan dengan tempo yang tidak terburu-buru. Di balik riuh kendaraan yang membelah batas Kalitanjung, terselip sebuah wilayah bernama Penyuken.
Dari kejauhan, kontur tanahnya bergelombang kecil, menandakan ia berada di undakan selatan Cirebon sebelum merayap naik ke dataran yang lebih tinggi. Lanskap itu kian berkarakter dengan alur Kali Penyuken yang melintas membelah kawasan tersebut, menghadirkan lembah berair yang sejak dulu menghidupkan tapak-tapak permukiman di sekitarnya.
Orang-orang tua setempat biasa menarik asal-usul nama itu dari kata suku—bukan dalam arti kelompok etnis, melainkan bagian bawah atau lembah bukit tempat aliran air bermuara. Namun, di balik penamaan topografis yang bersahaja itu, Penyuken menyimpan ingatan kolektif yang jauh lebih riuh: sebuah simpul cerita tentang intrik, penyamaran, dan telik sandi masa lalu.
Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul
Belum lama ini, ketika delik bersama tim Caruban Nagari menyusuri sudut RW 05 Penyuken yang tak jauh dari lintasan Kali Penyuken, langkah mereka berhenti di sebuah petilasan yang dikeramatkan warga. Di sanalah Sarida, sang juru kunci, mendedikasikan hari-harinya menjaga petilasan yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Nyi Mas Mangunsari.
Menariknya, kawasan situs yang dulunya tertutup rimbun semak belukar dan pepohonan liar itu kini tampak jauh lebih terang dan terbuka. Perubahan tersebut bukan buah proyek instan, melainkan hasil swadaya murni dan kerja bakti sukarela yang digerakkan oleh Ketua RW 05, Anton, bersama warga sekitar. Berkat kepedulian kolektif itu, tapak sejarah yang tersimpan di sana kini lebih layak diziarahi.
Nama Nyi Mas Mangunsari sendiri kerap beririsan dengan sosok yang lebih akrab di telinga publik sebagai Nyi Mas Gandasari—atau Nyi Ratu Mas Ayu Gandasari. Dalam babad-babad Cirebon, ia bukan sekadar pemanis cerita. Ia adalah panglima perang perempuan, satu-satunya yang tercatat memegang kendali komando di ring dalam Kesultanan Cirebon. Cantik, linuwih, dan memiliki kepala dingin yang mematikan. Sebagian silsilah lokal bahkan menempatkannya dalam pusaran keluarga dekat istana, sebagai putri Ki Gedeng Alang-Alang yang bersanding dengan Pangeran Cakrabuana.
