TERDAKWA kasus dugaan korupsi sekaligus Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, meradang setelah dituduh bertindak layaknya preman dan memeras kepala UPT di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau.
Di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Kamis (2/7/2026), Wahid membantah keras seluruh tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah kezaliman.
Dalam persidangan, penasihat hukum menanyakan apakah Wahid pernah mengancam akan mencopot kepala UPT yang tidak mengikuti perintah kepala dinas. Wahid membantah tuduhan tersebut.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
“Tidak ada, Saya tidak pernah dalam hidup saya mengancam-ngancam orang,” lontarnya saat menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa dalam sidang dugaan korupsi di Pengadilan Tipikor pada PN Pekanbaru, Kamis (2/7/2026).
Wahid menegaskan, selama menjabat sebagai gubernur, ia tidak pernah memerintahkan bawahannya mencari uang untuk kepentingan pribadinya.
Menurutnya, tuduhan yang dialamatkan kepadanya telah merusak nama baik serta martabat dirinya dan keluarganya.
“Saya dituduh menjadi preman, saya dituduh memeras, demi Allah semenjak saya sampai hari ini saya tidak pernah meminta-minta dari siapa pun. Saya merasa ini sebuah kezaliman bagi saya,” lanjutnya.
Mengaku Diancam dan Diusung Tokoh Riau
Dalam kesempatan itu, Wahid juga menceritakan proses dirinya maju sebagai calon gubernur Riau. Ia mengaku semula menginginkan SF Hariyanto menjadi calon gubernur.
Namun, berdasarkan hasil survei saat itu, elektabilitas SF Hariyanto dinilai belum mampu menyaingi rivalnya yakni Syamsuar.
Karena itu, kata Wahid, sejumlah tokoh masyarakat Riau, termasuk Ustadz Abdul Somad, mendatanginya dan memintanya maju sebagai calon gubernur.
Baca Juga:Draft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat HormuzMenkeu Amerika Serikat Umumkan Rampas Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun
“Setelah survei hasilnya tidak kuat melawan Syamsuar. Karena pak survei Syamsuar tinggi. Lalu dia [SF Hariyanto] meminta saya menjadi gubernur. Saya juga didatangi tokoh-tokoh termasuk Ustadz Abdul Somad untuk meminta menjadi gubernur,” lanjutnya.
Wahid juga mengaku pernah diancam oleh SF Hariyanto dengan menunjukkan rekaman penyidikan kasus PON Riau. Peristiwa itu kemudian dia ceritakan kepada Ustadz Abdul Somad.
Jaksa penuntut umum lantas menanyakan alasan Wahid tidak menempuh jalur hukum atas dugaan ancaman tersebut. Wahid menjawab dirinya lebih memilih menjaga hubungan baik dengan SF Hariyanto.
