Iran Respons Aksi Militer Amerika Serikat, Drone Hantam Delapan Pangkalan AS di Teluk

Pangkalan miiter AS di Timur Tengah - (CFR)
Pangkalan miiter AS di Timur Tengah - (CFR)
0 Komentar

IRAN meningkatkan respons terhadap aksi militer Amerika Serikat (AS) dengan mengumumkan operasi yang melibatkan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang diklaim menyasar delapan instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu diumumkan setelah AS melancarkan serangan udara baru ke wilayah selatan Iran pada Ahad dini hari.

Saling serang tersebut menjadi salah satu konfrontasi militer paling serius antara Teheran dan Washington sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan permanen.

Almayadeen melansir, Iran menilai operasi militer AS merupakan pelanggaran terhadap nota kesepahaman dan hukum internasional. Teheran juga memperingatkan bahwa serangan lanjutan berpotensi menggagalkan proses diplomatik yang sedang berlangsung.

Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni

Dalam pernyataan yang dirilis sebelum fajar Ahad, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan pasukan angkatan laut dan kedirgantaraannya melancarkan operasi gabungan antara pukul 02.00 hingga 03.00 waktu setempat.

IRGC mengklaim rudal balistik dan drone menghantam delapan fasilitas militer AS, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan markas Armada Kelima AS di Mina Salman, Bahrain.

Menurut IRGC, sasaran-sasaran tersebut telah dihancurkan sebagai “tanggapan tegas terhadap agresi Amerika baru-baru ini”. Namun, pernyataan itu tidak merinci enam lokasi lainnya. Hingga kini belum ada konfirmasi dari pemerintah AS mengenai klaim tersebut.

IRGC juga menuduh Washington melanggar komitmennya dalam Memorandum Islamabad. Menurut mereka, AS menyerang lima lokasi pesisir Iran dengan alasan merespons tindakan Iran mencegat sebuah kapal di Selat Hormuz.

Garda Revolusi menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 5 Memorandum Islamabad, kewenangan mengatur pelayaran di Selat Hormuz berada di tangan Republik Islam Iran. Mereka memperingatkan kapal-kapal yang melanggar ketentuan akan menghadapi tindakan penegakan hukum yang lebih tegas.

Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan AS berikutnya, termasuk terhadap target sekunder, akan dibalas dengan apa yang mereka sebut sebagai “respons yang melumpuhkan”.

Dalam pernyataan terpisah, Angkatan Laut Garda Revolusi menyebut penembakan yang dilakukan AS di Sirik tidak akan mengubah kendali Iran atas Selat Hormuz. Mereka menambahkan bahwa tindakan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan navigasi dimaksudkan untuk memastikan pelayaran tetap berada di jalur yang dinilai aman. Pernyataan itu juga mengancam keberadaan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

0 Komentar