Elektabilitas KDM Tumbang: Dinilai Overdosis Pencitraan hingga Proyeksi Capres Berantakan

Alumni Fisipol UGM, Heru Subagia
Alumni Fisipol UGM, Heru Subagia
0 Komentar

PENURUNAN elektabilitas Dedi Mulyadi (KDM) dalam bursa pencapresan nasional menuai sorotan tajam.

Pengamat politik lulusan Fisipol UGM, Heru Subagia, melontarkan kritik keras terhadap sikap politik KDM yang dinilai mengalami kejatuhan elektoral akibat terjebak dalam pencitraan lokal dan proteksi berlebihan dari lingkaran pendukungnya.

Heru menyebut, penurunan ini sudah dapat diprediksi sebelumnya, terutama setelah tantangan terbuka yang ia layangkan terkait penanganan kasus korupsi kelas kakap tidak pernah mendapat respons serius dari KDM.

Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

“Nyali KDM ternyata hanya sebatas politik lokal dengan keterbatasan kewenangan. Lebih memilih diam, menyerah, dan membiarkan dirinya tertekan daripada berani menggebrak koruptor kelas kakap,” ujar Heru dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).

Menurut Heru, narasi yang kerap dilempar ke ruang publik bahwa penindakan korupsi besar bukan merupakan kewenangan gubernur justru mempersempit ruang gerak KDM sebagai figur pemimpin masa depan. Ia menilai KDM seolah mengerdilkan dirinya sendiri sebagai “raja kecil” di Jawa Barat alih-alih tampil sebagai pemimpin nasional.

Kontras Hasil Survei: Dari Puncak Menuju Koreksi Tajam

Dinamika elektoral KDM terlihat jelas dari perbandingan hasil lembaga riset dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan rilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Juli 2026, KDM sempat memimpin di peringkat pertama dengan perolehan fantastis mencapai 35%, mengungguli Prabowo Subianto yang berada di angka 14,5%.

Namun, peta kekuatan berubah drastis dalam survei nasional terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 yang melibatkan 1.200 responden. Posisi puncak kini dikuasai oleh Presiden Prabowo Subianto dengan elektabilitas 23,4%.

Dalam simulasi terbuka tersebut, KDM menempel di posisi kedua dengan perolehan 21,7%, disusul Anies Baswedan (11,5%), Agus Harimurti Yudhoyono (4,5%), Ganjar Pranowo (4,1%), dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (3,9%).

Melihat rentang angka tersebut, Heru menilai KDM mengalami koreksi elektoral paling drastis dari angka 35% turun tajam ke kisaran 21,7%.

“Dibunuh” oleh Orang Dekat dan MilitanSelain faktor isu antikorupsi, Heru menyoroti peran lingkaran terdekat dan para pendukung militan yang dinilai justru merugikan KDM secara politik. Alih-alih membuka ruang dialog dan kritik konstruktif dari luar, para pendukung disebut memproteksi KDM secara berlebihan.

0 Komentar