Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Bermedsos, Inggris Kirim Pesan Keras ke Big Tech

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
0 Komentar

Pertanyaannya kini bukan apakah media sosial membawa manfaat, melainkan berapa harga yang harus dibayar sebuah generasi jika tumbuh di bawah kendali algoritma selama masa-masa paling rentan dalam hidup mereka.

Dari Australia hingga Inggris, Gelombang Pembatasan Makin Besar

Jika dulu larangan media sosial untuk anak-anak dianggap gagasan ekstrem, kini justru menjadi tren global.

Inggris bukan pelopor. Sebelum London mengambil langkah tegas, Australia lebih dulu mengguncang dunia teknologi dengan melarang anak-anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial. Kebijakan itu memicu perdebatan sengit dengan perusahaan-perusahaan teknologi, tetapi juga menginspirasi negara lain untuk mengambil langkah serupa. Mengapa semakin banyak negara memilih jalan yang sama?

Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni

Karena kekhawatiran terhadap dampak media sosial tidak lagi menjadi isu lokal.

Prancis telah memperketat akses media sosial bagi anak-anak dan mewajibkan keterlibatan orang tua untuk pengguna usia tertentu. Malaysia meningkatkan pengawasan terhadap platform digital dan konten yang berpotensi membahayakan anak. Indonesia juga mulai memperkuat regulasi perlindungan anak di ruang digital seiring meningkatnya kasus perundungan siber, eksploitasi daring, hingga paparan konten berisiko bagi remaja.

Fenomena ini menunjukkan satu perubahan besar.

Selama bertahun-tahun, pemerintah di berbagai negara cenderung menyerahkan pengaturan ruang digital kepada perusahaan teknologi. Namun kini negara-negara mulai sampai pada kesimpulan yang sama: algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna ternyata tidak selalu sejalan dengan kepentingan anak-anak.

Yang sedang berubah bukan hanya aturan, tetapi cara pandang dunia terhadap teknologi.

Jika pada dekade lalu media sosial dipandang sebagai simbol kebebasan digital, kini semakin banyak pemerintah yang melihatnya sebagai isu kesehatan publik, keselamatan anak, bahkan keamanan sosial. Akibatnya, ruang gerak perusahaan teknologi yang selama ini hampir tanpa batas mulai dipersempit oleh regulasi yang semakin agresif.

Bagi raksasa teknologi, ini menjadi ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan pengguna muda di satu negara.

Setiap aturan baru yang lahir di Australia, Inggris, Prancis, atau negara lain menciptakan preseden yang dapat ditiru pemerintah lain. Semakin banyak negara mengikuti jejak tersebut, semakin besar tekanan terhadap model bisnis platform yang selama ini tumbuh dari perhatian miliaran pengguna, termasuk anak-anak.

0 Komentar