BASARNAS menyampaikan informasi terbaru terkait penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Petugas mencatat penambahan jumlah korban gempa.
“Sampai dengan hari ketiga kemarin, pukul 23.30 WIB, telah kami kompulir, total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang,” kata Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).
Dia memerinci, 132 orang yang terluka terdiri atas 40 orang alami luka berat dan 92 orang alami luka ringan. Dia mengatakan petugas masih menyisir lokasi terdampak gempa.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
“Operasi yang kita lakukan hanya tinggal penyisiran karena berdasarkan laporan atau masukan data dari para korban tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian,” ujar dia.
Tim Basarnas saat ini fokus membantu tim pemulihan medis para korban, terutama di wilayah yang sulit dijangkau seperti di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
“Hari ini kami turut membantu perkuatan tim kesehatan sesuai arahan Bapak Menkes, khususnya di daerah terdampak cukup besar dan sulit dijangkau, seperti di Lamba Leda,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan data korban luka dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dia mengatakan data ini didasarkan pada jumlah warga yang dirawat di fasilitas kesehatan.
“Jumlah korban luka-luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan adalah 1.182 orang. Namun, perbedaan data tak perlu dipermasalahkan karena memang dasar perhitungannya yang berbeda,” kata Berton.
Dia mengatakan ada sedikit perbedaan data karena Basarnas mencatat orang-orang yang terluka berdasarkan apa yang ditemukan. Sedangkan data dari Kemenkes didapat dari jumlah warga yang dilayani di fasilitas kesehatan.
“Akan ada sedikit perbedaan data luka-luka, dan ini tidak menjadi polemik,” katanya.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
Gempa Susulan Masih TerjadiSelain soal korban, Berton menjelaskan aktivitas gempa susulan masih terjadi. Diperkirakan gempa susulan berangsur luruh hingga 2-3 pekan ke depan.
“Per hari ini, 18 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, kondisi gempa terkini, jumlah gempa susulan sebanyak 2.119 kali. Magnitudo terbesar adalah 6,2 dan terkecil 1,3. (Magnitudo) Di atas 5 ada 24 kali, sedangkan gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali,” ujar Berton.
