Satu Menko Baru, Dua Kursi untuk Satu Orang

Satu Menko Baru, Dua Kursi untuk Satu Orang
Bondhan W
0 Komentar

KAMIS jelang sore, 1 Oktober 2026, Istana Negara ramai lagi. Delapan belas pejabat dilantik. Keputusan presidennya ternyata sudah diteken sehari sebelumnya, 30 September. Jadi orang-orang yang dilantik itu sebenarnya sudah tahu nasibnya sejak malam.

Menurut hitungan sejumlah media, ini reshuffle ketujuh sejak Prabowo dilantik. Baru dua pekan lalu Menteri Keuangan diganti: Purbaya diganti Suahasil Nazara. Sekarang giliran kursi lain.

Kita mulai dari yang paling menarik: Bahlil Lahadalia.

Ia dilantik sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi. Kementerian baru? Tidak. Yang baru hanya jabatan koordinatornya. Dan Bahlil tetap Menteri ESDM. Jadi satu orang, dua kursi. Katanya ia diberi tahu lewat telepon dari Seskab. Soal pembagian tugas dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, Bahlil belum mau menjelaskan.

Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG

Padahal di situ letak soalnya. Hilirisasi selama ini juga urusan Rosan. Kini ada Menko yang membawahi urusan itu, dan Menko-nya orang yang sama dengan Menteri ESDM. Yang mengoordinasi dan yang dikoordinasi, di satu bangku. Bloomberg Technoz menyebut rangkap ESDM itu “untuk sementara waktu”. Berapa lama sementara itu? Tidak ada yang tahu. Di Indonesia, sementara bisa berarti sebulan, bisa juga sampai akhir periode.

Mungkin ini cara Presiden mengunci dua hal yang paling ia pedulikan: hilirisasi dan energi. Mungkin juga belum ada orang yang dianggap cocok mengisi ESDM. Dua tafsir itu sama-sama masuk akal. Kita tunggu saja apakah kursi ESDM nanti diisi orang lain.

Kedua, Menko Polkam. Dudung Abdurachman, yang tadinya Kepala KSP, naik menggantikan Djamari Chaniago. Kursi KSP diisi Listyo Sigit Prabowo, yang pada hari yang sama baru saja turun dari Kapolri. Jadi dua jenderal bertukar posisi di lingkaran Istana. Satu mantan KSAD, satu mantan Kapolri.

Perhatikan juga polanya. Dedi Prasetyo, mantan Wakapolri, jadi Kepala Badan Reforma Agraria Nasional. Fadil Imran, perwira tinggi polisi, jadi Wakil Kepala Badan Otorita Pantura. Kapolri baru Suyudi Ario Seto, wakilnya Wahyu Hadiningrat. Polisi memang makin banyak menempati kursi di luar kepolisian. Itu fakta. Apakah itu baik atau buruk, silakan Anda nilai sendiri.

0 Komentar