Satu Menko Baru, Dua Kursi untuk Satu Orang

Satu Menko Baru, Dua Kursi untuk Satu Orang
Bondhan W
0 Komentar

Ketiga, Golkar. M Sarmuji, Sekjen Golkar, jadi Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang, yang juga orang Golkar. Jadi kursinya tetap di Golkar, orangnya yang ganti. Dengan Bahlil naik menjadi Menko, Golkar tidak kehilangan apa-apa hari ini. Mungkin itu pesannya: Presiden merapikan, bukan menghukum.

Keempat, Menko PMK. Sugiono, yang tadinya Menlu, pindah menggantikan Pratikno. Sebagian media menyebut Pratikno sebagai “orang Jokowi”. Saya tidak tahu apakah itu yang dipertimbangkan. Yang bisa dilihat, Sugiono adalah orang yang sejak lama dekat dengan Prabowo. Kursi Menlu diisi diplomat karier, Arrmanatha Nasir. Dua langkah ini bisa dibaca sebagai penarikan orang dekat ke dalam, sambil menyerahkan diplomasi kepada profesional.

Kelima, urusan uang. Dua wakil menteri keuangan baru: Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman. Drajad Hari Wibowo jadi Wamenko Perekonomian. Setelah Menkeu diganti dua pekan lalu, kini wakil-wakilnya yang dirapikan. Tim keuangan seperti sedang disusun ulang dari atas ke bawah, pelan-pelan, tidak sekaligus.

Lalu apa kesimpulannya?

Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG

Pertama, kabinet ini cair. Tujuh kali dalam kurang dari dua tahun. Menteri sekarang harus bekerja dengan kesadaran bahwa kursinya bisa bergeser kapan saja.

Kedua, Presiden memilih menambah lapisan koordinasi daripada mengganti banyak menteri. Satu Menko baru, tanpa kementerian baru. Yang sulit adalah apakah lapisan baru itu mempercepat pekerjaan atau justru menambah meja rapat.

Ketiga, soal rangkap jabatan Bahlil, tunggu penjelasan resminya. Kalau tidak jelas batasnya, urusan hilirisasi bisa tumpang tindih antara dua orang yang sama-sama menteri senior.

Saya tidak ingin buru-buru menilai. Reshuffle selalu baru bisa dinilai beberapa bulan kemudian, bukan di hari pelantikan. Nama-nama hari ini hanya awal. Yang menentukan adalah apakah harga listrik, lapangan kerja, dan hilirisasi benar-benar membaik.

Kalau tidak, kursi yang diputar itu hanya akan terasa seperti ruang tunggu yang dicat ulang.

Penulis: Bondhan W

0 Komentar