Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Bermedsos, Inggris Kirim Pesan Keras ke Big Tech

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
0 Komentar

Alarm Kesehatan Mental yang Mengubah Kebijakan Inggris

Keputusan Inggris melarang media sosial bagi anak-anak di bawah 16 tahun bukan lahir dari perdebatan politik semata. Di balik kebijakan itu terdapat satu kekhawatiran yang terus membesar: memburuknya kesehatan mental generasi muda di era algoritma.

Selama satu dekade terakhir, para ahli kesehatan, psikolog, dan pendidik di Inggris terus memperingatkan dampak penggunaan media sosial yang berlebihan terhadap anak dan remaja. Fenomenanya tidak lagi sebatas kecanduan gawai. Yang muncul adalah gangguan tidur kronis, kecemasan sosial, depresi, rendah diri, hingga meningkatnya kasus menyakiti diri sendiri di kalangan remaja. Seberapa serius situasinya?

Masalahnya dimulai ketika media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi.

Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni

Platform digital modern dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin di depan layar. Setiap notifikasi, video pendek, rekomendasi konten, hingga fitur “scroll tanpa akhir” bekerja seperti umpan yang terus menarik perhatian pengguna. Bagi otak anak-anak yang masih berkembang, mekanisme tersebut dinilai jauh lebih sulit ditolak dibanding orang dewasa.

Dampaknya terlihat jelas pada pola hidup generasi muda.

Banyak remaja menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar hingga larut malam, mengorbankan waktu tidur demi mengikuti arus konten yang tidak pernah berhenti. Ketika tidur terganggu, konsentrasi belajar menurun, emosi menjadi tidak stabil, dan risiko gangguan psikologis meningkat. Namun bukan hanya soal durasi penggunaan yang menjadi masalah.

Algoritma juga dinilai membentuk tekanan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Setiap hari anak-anak dihadapkan pada standar kecantikan, gaya hidup, popularitas, dan pencapaian yang sering kali tidak realistis. Mereka tidak lagi membandingkan diri dengan teman sekelas, tetapi dengan jutaan orang di seluruh dunia. Akibatnya, rasa tidak percaya diri, kesepian, dan kecemasan menjadi semakin umum ditemukan di kalangan remaja.

Inilah yang membuat pemerintah Inggris memutuskan bahwa persoalan media sosial tidak lagi bisa dianggap sebagai urusan pribadi keluarga.

Bagi London, ini telah berkembang menjadi isu kesehatan publik yang memerlukan intervensi negara. Karena itu, pembatasan akses media sosial, larangan siaran langsung, hingga pengawasan chatbot AI dipandang sebagai bagian dari upaya melindungi generasi muda dari risiko yang semakin sulit dikendalikan.

0 Komentar