Imbas boikot China ini justru membuat saham perusahaan pemasok non-China meroket tajam pada awal tahun 2026. Saham Lynas Rare Earth Ltd di Australia melonjak hingga 16 persen, sementara korporasi Toyo Engineering Corp asal Jepang melesat 20 persen berkat inovasi teknologi penambangan logam tanah jarang dari dasar laut.
Sisi Kelam Militerisasi: Ancaman Horor Radioaktif di Malaysia
Di balik moncernya bisnis alutsista Jepang, terdapat ancaman kesehatan masif yang membayangi warga di Negara Bagian Pahang, Malaysia. Pasokan komponen magnet pertahanan yang diolah oleh Pabrik Lynas Rare Earth Malaysia di Gebeng Industrial Park menyisakan gunungan limbah radioaktif yang telah didemo oleh warga setempat selama lebih dari dua dekade.
Proses pemisahan tahap satu logam tanah jarang dipastikan menghasilkan residu nuklir berbahaya. Kasus serupa pernah terjadi pada dekade 1980-an di Bukit Merah, Ipoh, Malaysia, saat pabrik pemurnian milik Mitsubishi Chemicals memicu polusi radioaktif parah yang memicu trauma ekologi hingga saat ini.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
“Polusi radioaktif di Bukit Merah mengakibatkan anak lahir cacat dan aneka gangguan kesehatan. Ini menjadi kekhawatiran kami akan terulang di daerah kami di Pahang,” kata Tan Bun Tit (78), aktivis lingkungan hidup asal Kuantan, Pahang.
Tan mengungkapkan, paparan radiasi jangka panjang berisiko tinggi memicu kanker ganas serta mutasi genetik pada bayi baru lahir, salah satunya sindrom kepala lunak (Jelly Fish Head). Ia juga menyayangkan minimnya pemberitaan lokal di Malaysia karena adanya dugaan tekanan terhadap media massa serta keterlibatan aktor-aktor penting dalam bisnis bernilai miliaran dolar ini. Berbeda dengan di Australia yang mewajibkan penyimpanan limbah di dalam kubah beton tertutup, limbah radioaktif Lynas di Malaysia dilaporkan hanya ditumpuk di tempat terbuka yang rawan erosi angin dan hujan.
Merespons tekanan publik, Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) Malaysia dalam sidang parlemen (2/3/2026) menyatakan bahwa izin operasional Lynas diperpanjang dengan syarat ketat, di mana korporasi wajib menghentikan seluruh aktivitas pembuangan limbah radioaktif di wilayah Malaysia pada tahun 2031. Menteri MOSTI Datuk Chang Lih Kang menegaskan, Lynas harus beroperasi penuh dalam koridor keselamatan material radioaktif yang ketat.
