SETELAH hampir delapan dekade memegang teguh prinsip pasifisme (anti-perang) pasca-Perang Dunia II, Jepang kini resmi mengubah haluan politik luar negerinya menjadi lebih militeristik. Parlemen Jepang (Diet) dilaporkan telah mengamandemen konstitusi pasifis mereka guna membuka keran ekspor persenjataan ke berbagai negara mitra.
Langkah geopolitik agresif ini dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang gencar memasarkan alutsista produksi Jepang ke negara-negara tetangga sekaligus memperkuat aliansi pertahanan regional guna membendung dominasi ekonomi dan militer China. Namun, ekspansi industri pertahanan Tokyo ini menyisakan dampak lingkungan kelam di Asia Tenggara, khususnya terkait ancaman limbah radioaktif dari pasokan bahan baku senjata.
Dalam strategi barunya, PM Takaichi menjadikan isu Selat Taiwan sebagai bagian dari kepentingan keamanan nasional Jepang. Tokyo kini gencar menyuplai armada laut ke sejumlah negara. Takaichi menjual kapal perang ke Australia yakni fregat siluman (stealth) Mogami, menghibahkan armada kapal perusak (destroyer) Kelas Abukuma ke Filipina, dan merencanakan hal serupa yakni hibah kapal perusak kelas Asagiri ke Indonesia.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
Komitmen kerja sama ini dipertegas dalam pertemuan bilateral di Tokyo (5/6/2026), di mana Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin secara khusus membahas rencana hibah kapal perang serta pengadaan berbagai jenis persenjataan dari Jepang.
Ambisi militerisasi Jepang menghadapi tantangan besar karena hampir seluruh pasokan dunia untuk komponen inti industri senjata yaitu logam tanah jarang kadar berat (heavy-grade rare earth mineral) dikendalikan oleh Tiongkok. Akibat larangan ekspor material tersebut dari Beijing ke industri pertahanan Jepang, Tokyo mengalihkan investasi besarnya ke korporasi luar Tiongkok.
Sejak 2011, konsorsium Jepang yang terdiri dari Sojitz dan Japan Oil, Gas, and Metals National Corporation (JOGMEC) telah menyuntikkan modal sebesar 250 juta dolar AS ke perusahaan tambang Lynas Corp di Australia untuk mengamankan pasokan minimum 8.500 ton logam tanah jarang per tahun, atau setara 30 persen kebutuhan domestik Jepang.
Langkah ini diperkuat oleh Mitsubishi melalui Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) yang mengakuisisi saham Lynas. Dana tersebut terhubung langsung dengan Mitsubishi Heavy Industries (MHI), produsen utama kapal perang modern Kelas Mogami yang tengah memproduksi tiga unit komoditas tersebut di Jepang dan tiga unit di Australia.
