Menurut dia, isu pengayaan uranium, stok uranium yang telah diperkaya, dan pencabutan sanksi ditunda pembahasannya ke tahap kedua dan akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir.
Penandatanganan Bisa Dilakukan dalam Hitungan Hari
Araghchi mengungkapkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran terus mengawasi seluruh proses negosiasi dan telah meninjau semua ketentuan dalam rancangan memorandum.
Ia mengakui terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat Iran mengenai isi dokumen tersebut. Namun, keputusan akhir akan diambil secara kolektif.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
Menurut dia, memorandum itu terdiri dari kurang dari dua halaman dan dirundingkan kata demi kata. Dokumen tersebut memuat 14 klausul yang harus dipandang sebagai satu paket utuh, bukan sebagai konsesi terpisah dari salah satu pihak.
Araghchi mengatakan kesepakatan dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan setelah tahap akhir negosiasi selesai.
“Penandatanganan akan dilakukan secara digital dan jarak jauh,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan Iran tidak akan melanjutkan ke tahap kedua apabila pihak lain gagal melaksanakan komitmen yang tertuang dalam memorandum.
Araghchi juga mengingatkan agar laporan media mengenai berbagai versi memorandum tidak dianggap sebagai dokumen resmi karena spekulasi dapat mempersulit penyelesaian perundingan.
Ia menambahkan ancaman yang belakangan diarahkan kepada Iran memang menimbulkan tekanan politik dan psikologis. Namun, menurutnya, ancaman semacam itu justru akan memperlambat peluang tercapainya kesepakatan.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah Araghchi menulis di platform X bahwa Islamabad Memorandum of Understanding antara Iran dan Amerika Serikat “belum pernah sedekat ini” untuk diwujudkan. Ia juga meminta media tidak berspekulasi hingga proses negosiasi benar-benar selesai.
Baca Juga:Draft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat HormuzMenkeu Amerika Serikat Umumkan Rampas Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun
Perundingan yang dimediasi Pakistan itu berfokus pada penghentian permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat, pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional, serta pencapaian kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Sejumlah pejabat Iran sebelumnya menyatakan sebagian besar isi dokumen telah disepakati. Namun, Teheran menuduh Washington memperlambat kemajuan negosiasi melalui perubahan posisi dan pernyataan yang dinilai saling bertentangan.
