Cadangan Minyak Darurat AS Dikuras Trump, Lampaui Rekor Biden

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (ROBERTO SCHMIDT/GETTY IMAGES)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (ROBERTO SCHMIDT/GETTY IMAGES)
0 Komentar

DI tengah meningkatnya frustrasi pemilih terhadap lonjakan harga bahan bakar, Presiden Donald Trump kini mengambil langkah drastis dengan menguras cadangan minyak darurat Amerika Serikat (AS) pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan pendahulunya, Joe Biden. Langkah ini menjadi ironi politik mengingat Trump sebelumnya sempat mengecam keras kebijakan serupa saat kampanye 2022.

Data terbaru menunjukkan bahwa pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) di bawah pemerintahan Trump tidak hanya melampaui rekor sebelumnya, tetapi juga membuat stok minyak mentah nasional mendekati level terendah sejak awal 1980-an. Padahal, pada periode tersebut, ekonomi AS jauh lebih kecil dan mengonsumsi energi yang lebih sedikit dibandingkan saat ini.

Dampak Perang Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Langkah darurat yang diambil musim semi ini menggarisbawahi skala krisis minyak yang dipicu oleh perang dengan Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari–jalur distribusi energi paling kritis di dunia–menghambat aliran lebih dari 1,2 miliar barel minyak mentah menurut data S&P Global Energy.

Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark

Untuk menutupi celah pasokan tersebut, SPR merilis rekor 9,9 juta barel (sekitar 2,6%) hanya dalam pekan yang berakhir pada 15 Mei. Sejak konflik dengan Iran pecah, jumlah minyak di SPR merosot 10% menjadi 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024 berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA).

Analisis Ahli: “Ini bukan seperti toples kue. Barel-barel itu harus dikembalikan pada suatu titik dan proses pengisian kembali tersebut akan memicu permintaan serta harga yang tetap tinggi di masa depan,” ujar Matt Smith, analis minyak utama di firma intelijen energi Kpler.

AS sebagai Pemasok Terakhir Dunia

Menariknya, minyak darurat ini tidak hanya dialokasikan untuk kilang domestik AS. Estimasi Kpler menunjukkan sekitar setengah dari minyak mentah yang dirilis pada April dan Mei diekspor ke luar negeri. Negara-negara di Asia dan Eropa, yang terpukul keras oleh penutupan Selat Hormuz, kini bergantung pada minyak mentah AS sebagai pengganti.

Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, memperingatkan bahwa krisis ini mungkin akan berlangsung lama. “Bahkan jika kesepakatan damai tercapai besok, butuh waktu sekitar enam minggu untuk membuka kembali hambatan di selat tersebut. Eropa bisa saja menghadapi kebijakan penjatahan energi (rationing),” ungkapnya.

0 Komentar