PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Namun, keputusan ini justru memicu kemarahan di internal pemerintahan Israel.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut dicapai setelah komunikasi langsung dengan para pemimpin kedua negara.
“Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun dari Lebanon dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel. Kedua pemimpin telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama 10 hari,” ujar Trump.
Ia juga menegaskan peran Amerika Serikat dalam proses ini.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Kami akan bekerja sama secara erat dengan kedua pihak untuk memastikan ini mengarah pada perdamaian yang bertahan lama di kawasan.”
Trump bahkan menyebut momen ini sebagai tonggak penting.
“Ini adalah hari bersejarah bagi Lebanon dan langkah penting menuju stabilitas di Timur Tengah.”
Netanyahu Setuju, Tapi Beri Peringatan Tegas
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi persetujuan Israel terhadap gencatan senjata, namun menekankan syarat yang tidak bisa ditawar.
“Israel menyetujui gencatan senjata sementara, tetapi tidak akan mengorbankan kebutuhan keamanannya atau tujuan untuk melucuti kemampuan militer Hizbullah,” kata Netanyahu.
Ia juga menegaskan bahwa posisi militer Israel tetap dipertahankan. “Pasukan kami akan tetap berada di posisi yang diperlukan untuk melindungi warga Israel dan mencegah serangan di masa depan.”
Menteri Israel Marah: “Ini Kesalahan Besar”
Kesepakatan ini memicu reaksi keras dari sejumlah menteri kabinet Israel. Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mengkritik keputusan tersebut.
“Gencatan senjata ini adalah kesalahan besar. Kita memberi musuh waktu untuk berkumpul kembali dan mempersenjatai diri,” tegas Ben-Gvir.
Sementara itu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga menyampaikan penolakan.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
“Tidak ada alasan untuk menghentikan operasi ketika ancaman dari Hizbullah masih ada,” ujarnya.
Pernyataan keduanya mencerminkan ketegangan serius di dalam kabinet Israel, terutama terhadap keputusan yang dinilai terlalu dipengaruhi oleh tekanan Amerika Serikat.
Lebanon Sambut Baik, Tapi Tetap Waspada
