DI Undang-Undang Dasar tidak ada pasal tentang salaman. Tapi di Indonesia, salaman itu konstitusi tak tertulis. Kalau terlewat sepersekian detik, bisa jadi berita nasional.
Itulah yang terjadi Senin lalu, 5 Oktober, di Lapangan PRIMA, Mabes TNI, Cilangkap, pada HUT ke-81 TNI. Selesai foto bersama, Presiden Prabowo berdiri di tengah. Di satu sisi Presiden ke-6 SBY, di sisi lain Presiden ke-7 Jokowi. Menurut JPNN, Prabowo lalu menoleh ke SBY, bersalaman, dan mengobrol. Ia menyalami Komandan Upacara, Letjen Lucky Avianto, lalu memanggil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Jokowi hanya sekali ditengok, dan sesudahnya berbincang dengan Sjafrie.
Potongan videonya beredar. Tiga puluh detik, mungkin kurang. Dalam semalam, jadi vonis.
Baca Juga:Moskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut PantauTerungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan Ijazah
Sekarang saya harus mengaku sesuatu, sebelum Anda mengira saya ikut arus.
Saya tidak ikut bersalaman dengan kesimpulan bahwa Prabowo cuek kepada Jokowi. Itu sengaja. Yang saya catat hanya satu: ramainya orang mengira begitu. Dua hal itu beda. Yang pertama menuduh. Yang kedua mencatat.
Alasannya sederhana. Yang kita punya cuma potongan video. Kita tidak tahu apa yang terjadi di tribun sebelum upacara, atau setelah kamera pindah. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum menemukan satu pun tanggapan resmi, baik dari Prabowo, Jokowi, maupun Istana. Menuduh tanpa itu rasanya terlalu murah.
Lagi pula, kejadian begini bukan yang pertama. Pada 2022, Jokowi pernah dianggap melewati Kapolri Listyo Sigit saat bersalaman. Waktu itu Kepala Sekretariat Presiden menjelaskan bahwa mereka sudah bersalaman sebelum upacara. Salaman yang tidak terekam bukan salaman yang tidak terjadi.
Tapi jangan dikira saya menutup mata. Ada alasan mengapa orang begitu bersemangat.
Mulai dari akun media sosial. Said Didu menulis bahwa ada yang sepertinya kesepian di tempat ramai. Akun lain menyebut hubungan keduanya telah selesai. Ahmad Fadhli dari Adidaya Institute bilang publik tidak menafikan hubungan itu sedang tidak baik, dan sikap Prabowo menunjukkan ia bukan bayang-bayang Jokowi. Perhatikan: tiga-tiganya tafsir. Tidak satu pun fakta.
Lalu perhatikan polanya. Tujuh minggu lalu, 17 Agustus, Prabowo, Gibran, dan Jokowi duduk berdampingan di Istana, menonton atraksi pesawat tempur, sesekali tertawa. Juru bicara Gerindra, Bahtra Banong, menyebutnya hubungan baik yang natural. Setahun sebelumnya, Jokowi absen di HUT ke-80 TNI, dan menurut RMOL, Prabowo menyebut para mantan presiden dalam pidatonya tanpa menyebut Jokowi. Kalau itu benar, daftar nama dalam pidato adalah hal yang bisa dicek. Juli lalu, Jokowi membatalkan safari politik di Jawa Barat dan memilih ke Nusa Tenggara Timur. Seorang pengamat membacanya sebagai tanda kalah dalam pertarungan opini. Itu bacaannya, bukan keputusan Jokowi.
