Dan di tahun 2025, Prabowo pernah meneriakkan “Hidup Jokowi!” tiga kali dalam satu pidato.
Dari “Hidup Jokowi” ke tidak bersalaman. Kalau Anda menyambungkan titik-titiknya, memang terbentuk garis. Tapi garis dari titik yang sedikit bisa dibelokkan ke mana saja.
Itulah sebabnya gestur begitu seru. Ia murah dibuat dan mahal ditafsirkan. Kata-kata politisi sering diragukan, sedangkan gestur dianggap tak bisa bohong. Padahal gestur juga bisa dilatih. Seorang presiden bisa sekadar sibuk. Bisa juga sedang mengirim pesan. Bisa dua-duanya, dan yang paling tahu hanya dirinya.
Baca Juga:Moskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut PantauTerungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan Ijazah
Lalu mengapa ini penting? Karena hubungan dua orang ini bukan urusan pribadi. Putra Jokowi adalah wakil presiden. Partai di sekitar keluarga Jokowi ikut dalam peta. Setiap perubahan sikap, sekecil apa pun, ikut mengubah hitungan koalisi 2029. Dan dua pekan lagi pemerintahan Prabowo genap dua tahun. Saat orang mulai menimbang apa yang sudah dikerjakan, wajar kalau ia juga menimbang siapa yang dulu menyokongnya.
Sejarah juga bisa menenangkan sedikit. Hubungan presiden dengan pendahulunya di negeri ini jarang mulus. Dinginnya Megawati dan SBY sudah cukup jadi contoh. Mungkin kita sedang membaca bab baru dari buku lama.
Dan ada tafsir paling sederhana, yang jarang dipakai karena kurang seru: Prabowo lebih akrab dengan satu orang ketimbang yang lain. SBY dan Prabowo sama-sama purnawirawan jenderal, sebaya, dan sama-sama dibesarkan dunia militer. Presiden pun manusia. Ia boleh lebih betah ngobrol dengan yang sepermainan. Itu tafsir saya, dan setara nilainya dengan tafsir lain.
Maka jangan lihat videonya lagi. Video bisa dipotong. Lihatlah hal-hal yang sulit dipotong: apakah Jokowi masih diundang ke Istana, apakah namanya masih disebut dalam pidato, bagaimana posisi Gibran dalam beberapa bulan ke depan, dan apakah ada pernyataan, bukan dari akun anonim, tapi dari dua orang yang benar-benar bersangkutan.
Sampai saat itu, saya cukup mencatat satu hal. Sebuah salaman yang tidak terekam sanggup membuat satu negeri ribut seminggu.
Dan saya, sebagaimana sudah saya katakan di depan, tidak ikut bersalaman dengan kesimpulan bahwa Prabowo cuek. Saya hanya mencatat bahwa kita semua sedang sangat ingin tahu.
