SAYA belum pernah bertemu alien. Tapi kalau suatu hari harus menunjuk satu orang dan bilang, “ini yang datang dari planet lain”, saya tahu siapa yang akan saya tunjuk: Heru Subagia.
Sebelum lanjut, saya perlu mengaku dulu. Saya berteman dengan Heru cukup lama. Jadi tulisan ini tidak sepenuhnya netral, dan Anda berhak curiga. Teman lama boleh menggoda temannya, tapi teman lama juga wajib jujur. Karena itu saya akan bersandar pada hal-hal yang bisa Anda periksa sendiri.
Julukan ini dari saya, dan niatnya pujian. Alien itu bukan makhluk yang aneh. Ia makhluk yang tidak tinggal di planet yang sama dengan kebanyakan orang. Dalam politik kita yang sibuk membagi diri jadi kubu-kubu, orang yang tidak menempel ke planet mana pun memang terlihat seperti makhluk luar angkasa.
Buktinya? Mari kita periksa catatan pendaratannya.
Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM
Juli 2026. Jokowi membatalkan safari politik di Jawa Barat dan memilih ke Nusa Tenggara Timur. Heru membacanya sebagai tanda kubu Jokowi kalah dalam pertarungan opini, dan menyebut timnya terdorong masuk ke pentas politik pinggiran. Yang dikritik: orang yang sering disebut-sebut ia bela.
Februari 2026. Said Didu bertemu Presiden Prabowo di kediaman resmi. Heru menyebutnya pengkhianatan kaum oposisi, karena menurutnya oposisi seharusnya menjaga jarak. Yang dikritik: oposisi.
Bulan yang sama, ia menanggapi isu kudeta terhadap Kapolri Listyo Sigit dan wacana pemakzulan Gibran. Katanya, itu cuma narasi tanpa data. Yang dikritik: para penyebar isu itu.
September 2026. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dikaitkan sebagai calon wakil presiden pendamping Gibran. Heru menyebutnya naif dan gegabah, dan menilai KDM belum layak masuk bursa Pilpres 2029. Yang dikritik: sang gubernur populer.
Hitung sendiri: Jokowi, oposisi, para penyebar isu kudeta, dan KDM. Hampir semua planet pernah ia lewati, dan tidak satu pun jadi rumahnya.
Tapi ini yang paling menarik. Kalau dilihat lebih dekat, ia tidak asal menembak ke segala arah. Ukurannya hampir selalu sama: data, konsistensi, dan keberanian.
Tuduhan harus ada datanya. Oposisi harus konsisten sebagai oposisi. Calon pemimpin diukur dari seberapa berani ia menghadapi koruptor kelas kakap. Pada September 2025, ia juga mengeluh bahwa ruang publik terlalu sibuk dengan isu ijazah, padahal revitalisasi DPR dan RUU Perampasan Aset lebih penting.
