Alien dari Cirebon

Alien dari Cirebon
Heru Subagia
0 Komentar

Apakah ada calonnya? Itu urusan Istana. Saya hanya bilang, kebetulan saya kenal seorang teman yang syaratnya kira-kira cocok. Selebihnya, mari kita lihat. Dan jangan salah paham: saya tidak sedang mengusulkan siapa-siapa ke Istana. Ini cuma khayalan sore hari.

Lalu apa risikonya jadi alien?

Pertama, semua pihak bisa merasa dikritik, dan sebagian memang menganggapnya berpihak. Ia sendiri mengaku sering dianggap membela Jokowi dan Listyo Sigit. Orang yang tidak punya kubu kadang justru dicurigai oleh semua kubu.

Kedua, kata yang keras punya harga. “Pengkhianatan” itu kata berat. Argumen yang kuat kadang malah tertutup oleh kata yang terlalu tajam. Dan ia, sebagaimana pengamat lain, memberi tafsir. Tafsir itu belum tentu fakta.

Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM

Ketiga, tidak berpihak bukan berarti pasti benar. Alien yang tidak punya planet pun bisa salah membaca peta.

Tapi justru di situ nilainya. Politik kita butuh orang yang tidak hafal skrip kelompoknya. Orang yang bisa bilang “itu tidak ada datanya” kepada kawan, dan “itu tidak konsisten” kepada lawan. Orang yang bisa menyebut oposisi pengkhianat sekaligus menyebut kudeta Kapolri hanya narasi.

Alien itu tugasnya bukan mendarat. Tugasnya melihat bumi dengan mata yang berbeda, lalu bertanya hal-hal yang tidak ditanyakan penghuninya.

Sebagai teman, saya hanya berharap satu hal: semoga pesawatnya tidak kehabisan bahan bakar.

Penulis: Bondhan W

0 Komentar