Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata

Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata
Anak-anak Desa Wisata Pulesari bersama tim UGM dalam kegiatan Living Lab pengelolaan limbah padat untuk pariwisata berkelanjutan dan SDGs, Sabtu (3/10/2026). (Dokumentasi UGM)
0 Komentar

MEMBANGUN pariwisata berkelanjutan tidak cukup dengan memperbaiki infrastruktur destinasi, menambah jumlah kunjungan wisatawan, atau memperkuat promosi. Keberlanjutan juga membutuhkan perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat, termasuk generasi muda yang kelak menentukan masa depan destinasi wisata.

Semangat itulah yang mendasari pendampingan Living Lab Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) di Desa Wisata Pulesari, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026). Pendampingan itu berlangsung melalui kegiatan Monitoring Center Sustainable Tourism Observatories (MCSTO) UGM.

Salah satu perhatian utama kegiatan tersebut adalah mengenalkan kepada anak-anak pentingnya pengelolaan limbah padat di lingkungan destinasi wisata. Mereka diperkenalkan pada persoalan sampah yang muncul dari aktivitas sehari-hari maupun kegiatan pariwisata, sekaligus diajak memahami bahwa kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari keberlanjutan sebuah destinasi.

Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM

Pendampingan ini dilaksanakan melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan melibatkan mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata UGM. Pelaksana program adalah Dr. Ir. Muhamad, MT, IPU, ASEAN Eng., dosen dan peneliti di Sekolah Pascasarjana UGM; Nur Ainun Harlin Jennie Pulungan, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen dan peneliti di Fakultas Pertanian UGM; serta Dr. Ir. Ar. Dimas Wihardiyanto, ST, MT, IPM, dosen dan peneliti di Fakultas Teknik UGM.

Lingkungan sebagai ruang belajar

Pendekatan Living Lab menempatkan lingkungan masyarakat sebagai ruang pembelajaran nyata. Pengetahuan tidak hanya disampaikan melalui materi di dalam kelas, tetapi dibangun lewat pengalaman, pengamatan, interaksi, dan keterlibatan langsung dalam menghadapi persoalan di sekitar.

Di Desa Wisata Pulesari, lingkungan destinasi menjadi laboratorium kehidupan. Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana sampah dihasilkan, dipilah, dikumpulkan, diolah, dan dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini dinilai penting karena persoalan sampah tidak semata-mata teknis, tetapi berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, pengetahuan, kelembagaan, partisipasi masyarakat, serta tata kelola destinasi wisata.

Karena itu, pengelolaan sampah dalam Living Lab dipahami sebagai proses pembelajaran sosial. Anak-anak tidak hanya diajak mengetahui bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, tetapi juga mulai diperkenalkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana sampah berasal, mengapa perlu dikurangi, bagaimana sampah dipilah, dan apa yang dapat dilakukan masyarakat terhadap sampah dari kegiatan wisata.

0 Komentar