Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata

Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata
Anak-anak Desa Wisata Pulesari bersama tim UGM dalam kegiatan Living Lab pengelolaan limbah padat untuk pariwisata berkelanjutan dan SDGs, Sabtu (3/10/2026). (Dokumentasi UGM)
0 Komentar

Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pengelola desa wisata, dan generasi muda juga mencerminkan semangat SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Dengan begitu, pembelajaran pengelolaan sampah di Pulesari bukan sekadar kegiatan kebersihan, melainkan bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat dan menanamkan nilai keberlanjutan sejak dini.

Desa wisata sebagai ruang belajar bersama

Konsep Living Lab memberi perspektif baru dalam pengembangan desa wisata. Desa tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya aktivitas wisata, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama. Masyarakat belajar dari persoalan yang dihadapi, anak-anak dari lingkungannya, dan pengelola wisata dari pengalaman mengelola destinasi. Perguruan tinggi berperan sebagai mitra dalam pengembangan pengetahuan, monitoring, evaluasi, dan inovasi.

Model ini mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman lokal dalam proses belajar yang lebih kontekstual. Bagi Pulesari, pengelolaan sampah dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran yang lebih luas tentang hubungan antara lingkungan, masyarakat, dan pariwisata. Ketika anak-anak memahami bahwa lingkungan tempat tinggal mereka adalah aset wisata yang harus dijaga, tumbuh kesadaran bahwa keberlanjutan destinasi merupakan tanggung jawab bersama.

Investasi sosial

Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM

Aktivitas yang dilakukan tampak sederhana: mengenal sampah, memilahnya, mengurangi penggunaannya, dan menjaga lingkungan. Namun, di baliknya terdapat investasi sosial jangka panjang. Pariwisata berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya soal destinasi apa yang dibangun, melainkan nilai apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui Living Lab, UGM bersama masyarakat Pulesari berupaya membangun proses itu dari tingkat paling mendasar, yakni pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan anak-anak. Dari lingkungan desa wisata, pembelajaran tersebut diharapkan berkembang menjadi budaya masyarakat. Dari budaya masyarakat lahir aksi kolektif, dan dari aksi kolektif itulah keberlanjutan destinasi dibangun. Desa Wisata Pulesari pun menjadi ruang belajar hari ini untuk menyiapkan generasi yang akan menjaga pariwisata dan lingkungan di masa depan.

0 Komentar