Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata

Anak Desa Wisata Pulesari Belajar Kelola Sampah Living Lab UGM Siapkan Generasi Penjaga Pariwisata
Anak-anak Desa Wisata Pulesari bersama tim UGM dalam kegiatan Living Lab pengelolaan limbah padat untuk pariwisata berkelanjutan dan SDGs, Sabtu (3/10/2026). (Dokumentasi UGM)
0 Komentar

Generasi emas sebagai agen perubahan

Pengenalan pengelolaan sampah kepada anak-anak dinilai memiliki arti strategis. Mereka merupakan generasi yang akan hidup dan berinteraksi dengan destinasi wisata dalam jangka panjang. Pengetahuan dan kebiasaan yang dibangun sejak dini berpotensi menjadi modal sosial bagi terbentuknya budaya peduli lingkungan.

Anak-anak juga tidak berdiri sendiri. Mereka berada dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat desa wisata. Ketika pengetahuan tentang pengelolaan sampah dibawa ke lingkungan keluarga dan pergaulan sehari-hari, proses belajar dapat berkembang menjadi perubahan perilaku yang lebih luas.

Dengan demikian, anak-anak diposisikan bukan semata-mata sebagai objek edukasi, melainkan calon agen perubahan lingkungan. Mereka dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya baru dalam menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan merawat lingkungan destinasi. Perspektif ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat, yakni membangun kemampuan masyarakat untuk mengenali persoalan, menghasilkan pengetahuan, mengambil keputusan, dan bertindak bersama.

Dari sampah menuju pariwisata berkelanjutan

Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM

Bagi desa wisata, persoalan sampah memiliki dimensi lebih luas daripada kebersihan. Lingkungan yang bersih dan sehat menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan pengalaman wisata berkualitas sekaligus menjaga kenyamanan warga dan wisatawan. Pengelolaan limbah padat pun perlu ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola pariwisata berkelanjutan. Pengurangan sampah, pemilahan, pengumpulan, pengolahan, penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), dan peningkatan partisipasi masyarakat merupakan rangkaian yang saling berkaitan.

Melalui Living Lab, proses itu dikembangkan sebagai siklus belajar yang berlangsung terus-menerus: mengenali persoalan, belajar bersama, mencoba solusi, bertindak, memantau hasil, merefleksikan, dan memperbaiki tindakan. Dalam kerangka MCSTO UGM, monitoring menjadi penting karena keberlanjutan tidak cukup diukur dari adanya kegiatan, tetapi juga dari perubahan kapasitas, perilaku, partisipasi, dan praktik masyarakat dari waktu ke waktu.

Kaitan dengan SDGs

Kegiatan di Pulesari juga terkait dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan lingkungan bagi anak-anak mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya pengembangan pengetahuan dan kesadaran mengenai pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan limbah yang bertanggung jawab berkaitan erat dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Upaya membangun lingkungan desa wisata yang bersih, sehat, inklusif, dan berkelanjutan dapat dikaitkan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.

0 Komentar