PULAU Sertung menjadi salah satu titik yang disisir tim SAR dalam pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Pulau yang berada di sebelah barat Gunung Anak Krakatau tersebut masuk dalam area pencarian karena lokasinya berada di sekitar kompleks Krakatau.
Proses penyisiran langsung di Sertung tidak mudah dilakukan lantaran pulau tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III (Siaga).
Pulau Sertung merupakan bagian dari sisa sistem kaldera Krakatau dan dikenal dengan nama Verlaten Island pada masa Hindia Belanda. Letaknya yang sangat dekat dengan Anak Krakatau membuat Sertung berulang kali terpapar material vulkanik.
Profil Pulau Sertung di Kepulauan Krakatau
Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan
Pulau Sertung merupakan salah satu pulau yang berada di Kepulauan Krakatau, Selat Sunda, Provinsi Banten. Pulau ini terletak di sebelah barat Gunung Anak Krakatau dan memiliki luas sekitar 1.057 hektare, dengan titik tertinggi mencapai sekitar 182 meter di atas permukaan laut.
Sejarah Pulau Sertung dan Kaitannya dengan Krakatau
Dalam catatan sejarah, dilansir Antara, Jumat (11/9/2026), Pulau Sertung pada masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Verlaten Island, yang berarti pulau yang tertinggal atau terbuang.
Sertung merupakan bagian dari sisa sistem kaldera Krakatau yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lalu, bersama Pulau Panjang dan Pulau Rakata. Letaknya yang hanya sekitar empat kilometer dari Anak Krakatau membuat Sertung menjadi salah satu daratan yang paling dekat dengan pusat aktivitas vulkanik tersebut.
Keberadaan Sertung berkaitan erat dengan sejarah besar kompleks Krakatau. Pulau ini merupakan bagian dari fragmen dinding kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Setelah berbagai proses vulkanik berlangsung, kawasan tersebut berkembang menjadi kompleks pulau yang kini terdiri atas Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau.
Anak Krakatau kemudian muncul dan terus tumbuh sejak akhir 1920-an di antara sisa-sisa kawasan Krakatau lama. Karena berada di sisi barat Anak Krakatau, Sertung kerap berada di jalur paparan material erupsi berupa abu, pasir vulkanik, lapili, maupun material lainnya ketika aktivitas gunung api meningkat.
